Dari Ribathul Qur’an Menuju Madrosatul Huffadh

18:26
PERIODE AWAL

Madrasah Huffadh Al-Munawwir adalah salah satu lembaga pendidikan yang berdiri secara otonom di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Pesantren ini didirikan pada tanggal 15 November 1911 oleh KH. M. Munawwir bin Abdullah Rosyad. Beliau merupakan salah seorang maestro Al-Qur’an di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, yang memiliki spesialisasi pada hafalan Al-Qur’an dan qira’at (qira’at masyhurah dan qira’at sab’ah). Sesuai dengan keahliannya tersebut, beliau mendirikan sebuah pesantren yang memfokuskan pada pengajian Al-Qur’an dalam arti menghafalkan dan mendalami ragam qira’at­-nya yang pada mulanya disebut dengan ”Ribathul Qur’an”. Berbagai kegiatan pengajian seperti setoran hafalan Al-Qur’an, takror, dan semaan Al-Qur’an rutin pun berjalan dengan baik.

Masjid Lama Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak

Pada masa ini, KH. M. Munawwir memakai metode Musyafahah, yakni santri membaca Al-Qur’an langsung di hadapan beliau, jika terjadi kesalahan membaca, beliau langsung mengoreksinya. Selain itu, beliau juga sering memerintahkan kepada santri senior untuk membenarkan bacaan santri baru, atau santri baru disuruh meminta petunjuk kepada temannya yang lebih pandai di luar majelis pengajian.

Sebelum mengaji surah AL-Baqarah (juz 1), santri diharuskan telah hapal surah Al-Fatihah dan Juz ‘Amma. Dan apabila hendak mengikuti pengajian Bil Ghaib (hapalan) diharapkan terlebih dahulu mengajar di kelas Bin Nadhri (dengan membaca mushaf) paling tidak sampai dengan juz lima.

Adapun pengajian pokok, yakni pengajian Al-Qur’an diselenggarakan mulai pukul 07.30 sampai dengan pukul 13.00 WIB. Khusus pada bulan Ramadhan dilaksanakan dua kali sehari semalam, yakni siang dimulai ba’da Dhuhur hingga ‘Ashar dan malam dimulai ba’da Tarawih sampai selesai.

PERIODE KEDUA

Pada perkembangannya, khususnya pasca KH. M. Munawwir meninggal dunia pada 11 Jumadil Akhir 1360 H./6 Juli 1942 M., perjuangan beliau dan kepemimpinan pesantren pun dilanjutkan oleh tokoh ”Tiga Serangkai”, yakni KH. R. Abdullah Affandi Munawwir, KH. R. Abdul Qodir Munawwir, dan KH. Ali Maksum. Sesuai dengan fungsi dan tujuan lembaga pendidikan ini yang memfokuskan pada Tahfidz Al-Qur’an, maka pada tahun 1955, atas prakarsa KH. R. Abdul Qodir Munawwir dengan bantuan KH. Mufid Mas’ud, KH. Nawawi Abdul Aziz dan KH. Hasyim Yusuf, lembaga pendidikan ini diubah namanya menjadi ”Madrasatul Huffadh (atau Madrasah Huffadh)” yang berarti tempat nderes atau belajar para huffadz (penghafal Al-Qur’an).

KH. R. Abdul Qodir Munawwir


Pada masa KH. R. Abdul Qodir, pengajian Al-Qur’an diselenggarakan di masjid, dengan menggunakan sistem dan metode yang sama sebagaimana pada masa KH. M. Moenawwir. Santri yang ingin mengikuti pengajian tahaffudh Al-Qur’an (bil ghaib) disyaratkan untuk terlebih dahulu mengaji secara bin nadhri di hadapan guru dengan hasil yang baik dan benar.

Cara menghapalkan Al-Qur’an yang berlaku saat itu antara lain;
  1. Satu ayat dihapal sampai lancar. Baru pindah ke ayat selanjutnya setelah betul-betul lancar. Ketika ayat berikutnya dihapal, ayat sebelumnya juga ikut diulang. Demikian seterusnya hingga satu halaman, satu surat, satu juz, dengan cara yang sama sampai selesai 30 juz Al-Qur’an.
  2. Sebelum ayat-ayat dari surat-surat itu dihapal dengan baik, hapalan ditambah dahulu dengan ayat dan surat selanjutnya. Karena sering diulang, ayat-ayat dan surat-surat sebelumnya akhirnya terhapalkan pula. Demikian terus-menerus hingga selesai.
Secara khusus, ada dua metode pada pengajaran Al-Quran bil ghaib di periode ini;
  1. Perorangan (individu), yakni kiai mengikuti santri untuk menghapalkan suatu ayat, surat atau juz.
  2. Jama’ah Mudarosah (kolektif), yakni terdiri dari dua cara;
    1. Salah satu anggota jama’ah diperintahkan membaca hapalan suatu ayat, surat, atau juz. Kemudian dia berhenti dan dilanjutkan oleh teman di sampingnya, secara bergantian sampai selesai 30 juz.
    2. Salah satu anggota jama’ah diperintahkan membaca hapalan suatu ayat, surat, atau juz. Kemudian berhenti dan dilanjutkan oleh santri lain yang ditunjuk oleh kiai secara acak.
Untuk mentashih kembali hapalan para santri yang sudah selesai, maka mereka diharuskan melakukan Mu’arodhoh (membaca ayat atau surat yang sudah dihapalkan) secara musyafahah (bertatap muka secara langsung) sampai tiga kali khatam.

Untuk menguji kelancaran para huffadh, kiai membaca suatu ayat dan santri diperintahkan melanjutkannya, atau kiai membaca suatu ayat lalu santri ditanya perihal letak ayat tersebut, surat apa, juz berapa, bagian mana, lembar kiri atau kanan, dan lain sebagainya. Kemudian dilanjutkan dengan mudarosah (nderes) selama 41 hari dengan menghapal dan mengkhatamkan sebanyak 41 kali pula.

Sema'an Al-Quran 5 Juz Ahad Pagi di Madrasah Huffadh II


PERIODE KETIGA

Sepeninggal KH. R. Abdul Qodir Munawwir (2 Februari 1961 M.) dan tujuh tahun setelahnya KH. R . Abdullah Affandi Munawwir pun menyusul beliau (10 Januari 1966 M.), setelah 29 tahun berlalu di bawah kepemimpinan ”Tiga Serangkai” yang sukses menelurkan para hafidz Al-Qur’an, sesuai dengan musyawarah Keluarga Besar Bani Munawwir, kepemimpinan dipegang oleh KH. Ali Maksum hingga tahun 1989 M.

Pendidikan Al-Qur’an pada periode ini tetap berlangsung sebagaimana biasanya, dan jumlah santri pun bertambah banyak. Untuk santri putra pelaksanaan pengajian diselenggarakan di gedung terbuka (utara Masjid / depan komplek B) lalu dipindah ke komplek utara (Komplek L). Penanggung jawab pendidikan Al-Qur’an khusus putra adalah KH. Ahmad Munawwir, dibantu oleh KH. Nawawi Abdul Aziz, KH. Mufid Mas’ud, KH. Zaini Munawwir. Sedangkan pengajian Al-Qur’an khusus putri ditempatkan di komplek utara (Komplek Nurussalam) yang diampu oleh KH. Mufid Mas’ud, KH. Dalhar Munawwir, Ny. Hj. Hasyimah Ali, Ny. Hj. Jauharah Mufid, Ny. Badriyah Munawwir, Ny. Jumalah Munawwir. Adapun metode dan sistem pengajaran Al-Qur’an pada periode ini meneruskan sebagaimana metode periode kedua.

Pada awal perjalanan, Madrasah Huffadh yang dipelopori oleh KH. R. Abdul Qodir Munawwir dahulu belum memiliki gedung khusus, sehingga pengajian Al-Qur’an difokuskan di Komplek L di bawah asuhan KH. Ahmad Munawwir. Baru pada tahun 1989 M., Madrasah Huffadh ini memiliki sebuah gedung khusus yang didirikan di atas tanah wakaf dari KH. Ali Maksum di sebelah selatan Masjid Al-Munawwir.

Sema'an Al-Quran 30 Juz Malam Sabtu Wage


PERIODE KEEMPAT

Mulai tahun 1989 M., kepemimpinan pusat Pondok Pesantren Al-Munawwir dipegang oleh KH. Zainal Abdin Munawwir hingga sekarang. Sedangkan untuk Madrasah Huffadh, diampu oleh KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir. Dan pada perkembangannya, Madrasah Huffadh ini terbagi menjadi dua yakni, Madrasah Huffadh I yang diasuh oleh KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir (berlokasi di sebelah selatan Masjid Al-Munawwir) dan Madrasah Huffadh II yang diasuh oleh KH. R. Abdul Hafidh Abdul Qodir (bertempat di ndalem beliau, sebelah utara gerbang utama PP Al-Munawwir).

KH. R. Abdul Hafidh dan KH. R. Muhammad Najib


Sesuai dengan cita-cita muassis Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, yakni KH. M. Moenawwir, untuk membumikan Al-Qur’an, maka Madrasah Huffadh pun memfokuskan pengajian dengan materi hafalan Al-Qur’an. Semua kegiatan diarahkan kepada tujuan tersebut.

Aktivitas di Madrasah Huffadh (baik itu di MH I maupun MH II) saat ini terdiri dari Pengajian Qiroat ‘ala Syaikh yakni sorogan atau setoran hapalan, Takror atau Muroja’ah (mengulangi) hafalan/bacaan Al-Qur’an yang telah disetorkan sebelumnya secara pribadi maupun kelompok, Semaan Al-Qur’an yang dilaksanakan rutin dan diperuntukkan bagi santri Madrasah Huffadh maupun santri Al-Munawwir secara keseluruhan, Muqoddaman sebulan sekali, Ziarah Masyayikh, Maulid Diba’iyah, serta Mujahadah yang merupakan salah satu media untuk bermunajat kepada Allah dan media silaturahmi untuk memberikan berbagai motivasi, sosialisasi kebijakan, dan lain sebagainya.

Adapun bagi santri yang sudah mengkhatamkan Al-Qur’an baik bin nadhar maupun bil ghaib ‘diwisuda’ dalam beberapa khataman yang diselenggarakan di Pesantren Al-Munawwir. Yakni;
  1. Khataman yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan Haul KH. M. Munawwir, baik bagi khotimin putra (bertempat di Komplek L) maupun putri (di aula PP. Al-Munawwir).
  2. Khataman yang diselenggarakan di Komplek Nurussalam khusus santri putri.
  3. Khataman yang diselenggarakan 2 tahun sekali pada saat peringatan Haul KH. R. Abdul Qodir Munawwir bagi khotimin dari Madrasah Huffadh.
Demikian sekelumit dinamika tradisi ‘penjagaan’ Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta seiring dengan perkembangan jaman. Semoga -paling tidak- bisa mengingatkan kembali tentang perjuangan para pendahulu, rodhiyalloohu 'Anhum Ajma'iin.

Salah satu prosesi Khataman Al-Qur'an di PP Al-Munawwir Krapyak



[Majalah Al-Munawwir Pos #2 :: ZIA-MH1]

Sumber;
- Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta; Djunaidy A. Syakur dkk.
- Romo Kyai Qodir; Pendiri Madrosatul Huffadh PP Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta; M. Mas’udi Fathurrohman.
- Brosur Madrasah Huffadh

No comments:

Powered by Blogger.