Si Jaza; A Journey To Be Self-Balanced (Menuju Keseimbangan)

14:31
Ini tentang kawan sekelasku dahulu. Aku mengenalnya sebagai Jaza, lengkapnya aku tak tahu. Karena aku hanya mengamatinya dari kejauhan. Pasalnya, dia tampak aneh, dan kata guruku, agak berbahaya bila didekati. Bisa jadi gila.

Si Jaza, remaja tanggung ini berbeda dengan sebayanya, ketika kawan-kawan berbicara tentang cinta monyet, hingar bingar keceriaan khas remaja, dia menggubah sajak-sajak tentang keabadian. Tentang keabstrakan realita dunia. Tentang asal dan kembali. Sempat kupungut remasan kertas yang ia buang di tong sampah sudut kelas, kuamati, hmm, puisi yang tak bisa kupahami.

"kekasih yang kucintai
nantikanlah aku kembali

kembali ke pangkuanmu
dalam dekap cintamu

aku yang t’lah lama pergi
pergi kembarakan hati

mencari sisa jiwa yang hampa
melengkapi segala asa

perjalananku menggapai fatamorgana
menapaki sahara seluas kata

tiap majazi tersurat dan terlisan
tuk tunjukkan hakikat makna kerinduan

kerinduan yang bermulakan keyakinan
keyakinan yang terkubur pusara keraguan

laksana gurun bermandikan rintik gerimis
gerimis cintamu segarkan dahaga qalbuku

s’gala kepayahan ini kupercaya kan mengembun hilang
terganti episode tatap peluk redakan kegersangan

aku insan miskin kesabaran
menanti keabadian bersama kekasih pujaan

dalam kebahagiaan bagai rantai tak berkesudahan
tersulur berderai sepanjang wujudnya ciptaan

mengerti, mengasih-sayangi, tanpa seka keputus-asaan lagi
tanpa kekecewaan, tanpa keraguan dan kematian hati

aku tahu bahwa kau pasti tahu
bahwa...

di segenap langkah kakiku tertuju
di setiap degup jantung yang semangati aliran darahku
di sekejap kedipan yang halangi tiap pandanganku
di lelahnya hela nafasku

...aku merindukanmu."

--mejaguru, juni duaributujuh--

Kantong-kantong kebijaksanaan dan mata air pengetahuan ia datangi, inginnya menjawab pertanyaan-pertanyaan batin yang ia sendiri tidak begitu paham maknanya. Memang setiap manusia dikaruniai daya pikir, namun tetap saja berbeda. Ada yang puas dengan mengetahui bahwa gula itu manis dan garam itu asin. Namun ada pula yang tersiksa oleh rasa penasaran mengapa gula itu manis, dan kenapa dia berbeda dengan garam yang asin? Dan harus ia temukan jawabannya, sejauh apapun dia harus melangkah, selama apapun dia musti mencari!

Dia ingin tahu kebenaran. Dia ingin melihat keaslian. Dia ingin merasakan hakikat keberadaan.

Maka mulailah berbagai laku olah jiwa ia selami, dengan meditasi spiritual dalam kesendirian hati. Lisannya tak kering merapal dzikir. Menyepi adalah hobinya, bersujud menjadi kegemarannya, butir-butir rosario sahabatnya.

Sehingga semakin terasa ketajaman-ketajaman batin yang menuntunnya kepada suatu kepekaan rasa yang tak terkatakan. Namun ia tetap tak puas, karena lelakunya belum juga menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tentang ada dan tiada.

Apalagi usianya yang belum lagi genap tujuh belas tahun. Kematangan batin yang tidak didukung atmosfer realita, yang sama sekali berbeda, hanya membuatnya muak. Roda jiwanya berputar kesana, sedangkan roda hiruk-pikuk kencang berputar kemari. Sehingga gesekan demi gesekan menyiksa kesendiriannya. Aduhai malang benar dia itu. Tiada tawa ceria remaja, tiada tangis asmara muda.

Bodoh!

Ya! Itulah kata kuncinya, “bodoh”. Ia mulai curiga dengan dirinya sendiri. Setelah sekian tahun me-laku, ia baru sadar akan kebodohannya. Bukan sadar sekedar kata latah, tetapi memang betul-betul melihat dirinya dari luar dirinya sendiri. Kehampaan aktivitas akal membuatnya tak pernah sampai kepada jawaban tentang apapun.

Ia merasa hampa dalam kesunyian alam dzikir.

Apalagi ketika ia menginsafi bahwa sistem yang dia tenggelam di dalamnya hanya mencetak robot-robot industri tai dan kencing.

Ia ingin sebenar-benarnya mengenali dirinya, untuk kemudian menjadi dirinya sendiri.

Ia membuka diri. Ia membebaskan elang pikirannya untuk terbang sejauh mana ufuk berbatas. Sambil melepaskan simbol keterikatan, jubah ritual, dan segala atribut formal yang selama ini identik dengan dirinya. Bahkan, dengan alasan objektivitas, sujud pun dijagajarakinya.

Ia ingin lepas. Menghirup sedalam-dalamnya udara ke setiap alveolus di rongga dadanya, sambil merentangkan lengan-lengannya selebar-lebarnya. Sekaligus menegakkan punggung dan merontokkan beban-bebannya.

Bertualanglah Jaza dengan sedikit kematangan kepribadiannya. Menelusuri labirin-labirin saraf yang memusingkan, mngerutkan dahinya, menguruskan badannya, memucatkan wajahnya, mengusutkan rambutnya, mengeringkan bibirnya, dan justru; membebani punggungnya.

Ia merasa kering dalam kegirangan alam pikir.

Akhirnya -meski hakikatnya adalah awal- ia mulai naksir dengan Keseimbangan, tentang bagaimana indera umum mengasah rasionalitasnya untuk kemudian dipertajam dengan laku spiritualitas, sehingga menjadi fakultas rohani penangkap gelombang-gelombang intuisi, demi memahami satu hal yang menyeluruh; kebenaran realitas.

Ia terlanjur kesengsem dengan konsep ideal alam semesta karya Tuhan ini: Keseimbangan.

Begitulah yang Jaza kisahkan padaku di angkringan sore tadi, setelah lima tahun terpisah jalur hidup, di sela perjalanannya menyeimbangkan segala, dan aku masih terus mengamati kawanku ini.


Angkringan Krapyak, 07/01/2013

No comments:

Powered by Blogger.