Sang Kelana dan Fatihahnya

23:25


“All of us have our own way in this long spiritual journey..”

Ini kisah nyata tentang salah seorang penghuni kampung kami di kaki Gunung Slamet ini.

Sebut saja namanya Polan. Ia mengaji Al-Quran kepada seorang ustadz tiap senja, sambil mencarikan rumput pakan kelinci ustadznya itu untuk mendapatkan sekeping dua keping rupiah. Kadang, ia dipersilakan bersantap bersama keluarga sang guru sambil mengobrol kesana-kemari.

Polan mengaji Al-Fatihah berbulan-bulan. Ya, memang, mengaji Al-Quran kepada beliau dan kepada guru-guru ngaji terdahulu memang tidak mudah. Jika belum benar-benar tepat makhroj dan tata baca di surat Al-Fatihah, jangan harap bisa melanjutkan ke Al-Baqarah. Dahulu akupun musti tahan bentak selama satu bulan di hadapan beliau.

Entah karena faktor apa, Polan tak kunjung tuntas mengaji Al-Fatihah, hingga ia pun hampir frustasi,
“Yaa Allaaah, kapan aku benar-benar bisa Fatehah.. Yaa Allaah..” keluhnya.

Setelah hampir tiga bulan berlipat kening, memonyong dan memeringiskan bibir demi bacaan Al-Fatihah yang ‘sempurna’, akhirnya sang guru mengijinkan Polan melangkah ke Al-Baqarah. Betapa senangnya hati Polan. 

Itu artinya, ia berhak melanjutkan mengaji ke surat-surat selanjutnya, dari Al-Baqarah, lalu Ali Imran, dan seterusnya hingga An-Nas di penghujung Al-Quran.

~

Beberapa tahun kemudian, yakni beberapa hari lalu, sang ustadz dan istrinya berkesempatan berkunjung ke rumah Polan. Karena kabarnya, Polan sudah pulang setelah bertahun-tahun mengembara entah kemana. Tak hanya desa-desa dan kota-kota yang sudah dijelajahinya, bahkan gunung-gunung dan hutan-hutan pun ia akrabi. Ia pulang dalam rangka pernikahan salah seorang kakaknya.

Rumahnya sudah nampak beda, sudah jauh lebih megah bila dibandingkan dengan kondisinya dahulu semasa ia kecil. Dan di ruang tamu sudah banyak tetangga dan kerabat ramai berkerumun, namun tidak nampak Polan. Sejak kepulangannya, Polan lebih banyak menyendiri di kamar. Hanya bila ada kepentingan saja ia keluar, termasuk saat ini.

Mendengar kedatangan gurunya, Polan bergegas keluar dan segera menemui kedua tamunya itu.

Ustadz dan istrinya terkesima memandang wajah Polan. Gondrong rambutnya dengan wajah yang berkumis dan brewok hitam pekat membuat Polan tampak lebih tua dari usianya. Dan tak bisa dipungkiri, ada cahaya yang memancar dari wajah pemuda ini, cahaya wibawa yang membuat bergetar hati orang yang memandangnya. Bahkan bisa membuat tubuh gemetar sebab segan dan haibahnya. Kerumunan orang yang tadi riuh rendah penuh gelak tawa kini terdiam, hening, tak bersuara.

Hingga akhirnya Polan memulai perbincangan sederhana dengan kedua tamu istimewanya itu.

Kenangan demi kenangan, kisah demi kisah, mewarnai cengkerama mereka sore itu. Namun, seseru apapun kelana Polan di luar sana, sedalam bagaimanapun samudera batin yang telah ia selami, ia tetap tidak sesumbar di hadapan gurunya. Ia tetap bersikap dan berucap sederhana, layaknya orang desa pada umumnya. Justru kedewasaan dan kerendahan hati yang sudah begitu matang tergambar jelas dari tutur kata serta tindak tanduknya.

Tetapi, lagi-lagi tak bisa dipungkiri, ada wangi ketenangan dan kedalaman makna dalam setiap bulir kalimat yang terlontar dari mulutnya. Jelas dia bukan Polan yang dahulu, dia seperti ulat yang mematangkan diri dalam kepompong kembara lalu kembali berupa kupu-kupu indah dengan sayap-sayap mempesona.

Setelah puas bernostalgia, sang ustadz undur diri karena senja sudah makin menua. Namun sebelum beranjak pulang, beliau sempat menanyakan satu hal yang dari tadi mengusik pikirannya.

“Setelah semua yang Gusti Allah karuniakan kepadamu, bolehkah aku tahu apa wirid yang kau dawamkan selama ini?” tanya sang guru.

“Hanya Fatehah, Ustadz. Semenjak saya benar-benar bisa Fatehah dahulu, saya selalu menyibukkan diri dengan Fatehah itu, dan itulah yang saya wiridkan sepanjang waktu, Ustadz. Sehingga bacaan mulia itu betul-betul memenuhi dadaku.” jawab Polan sambil berkali-kali mengungkapkan terima kasih kepada guru ngajinya semasa kecil dahulu itu.

~

Ada satu hal yang Polan sampaikan dan menarik perhatianku, karena senada dengan apa yang pernah aku dengar dari sosok-sosok pelaku perjalanan batin lain dalam kesempatan yang berbeda. Entah berdasarkan pengalaman empiris ataukah intuitifnya, ia berkata;

“Alhamdulillah, sebuah karamah yang besar dari Allah, bahwa di daerah Tegal ini masih banyak orang soleh walau tersembunyi. Meskipun ada yang maksiat, itu tak seberapa dan hanyalah sementara. Masih lebih banyak mereka yang tekun beribadah dan rukun bermuamalah. Alhamdulillah.”

Wallahu A’lam

“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah; 269)

salah satu ruas jalan Desa Tuwel menuju Gunung Slamet

Tuwel, Jum’at/15/02/2012

1 comment:

Powered by Blogger.