Pelacur Sarkem dan Nama Tuhan

18:01



Hadiah ulang tahun adalah ungkapan cinta dengan bermacam rupa. Tak melulu kado kubus berisi perabotan. Pokoknya kegembiraan. Ia bisa berbentuk bakwan hangat dengan sebatang spidol sebagai pengganti lilin di tengahnya, menyerupai tart cake. Atau berupa adukan sabun cuci, sampah dapur dan muatan asbak yang disiramkan ke sekujur badan. Atau sekedar ajakan jalan-jalan tengah malam. Itulah yang kudapat di tahun ke dua puluh empat ini.

“Aku mau bikin penelitian,” kata Said, “tentang hubungan antara perilaku pacaran dengan relijiusitas seseorang. Dari yang pacaran minimalis; cuma SMS dan telepon, sampai yang kurang ajar nyewa kamar. Hahaha..”

Entah serius atau memang sedang gendeng, idenya ini menjadi semacam pengantar agenda malam itu. Kamis malam Jum’at. Mengunjungi salah satu komplek lokalisasi terbesar di negara ini di samping tiga lokasi lainnya. Sarkem, akronim dari Pasar Kembang, nama tempat itu. Lokalisasi ini jauh lebih tua dibanding usia kami. Ia ada sejak zaman kolonial Belanda, 1818.

Karena sudah cukup malam, dua gadis baik hati pamitan pulang kepada sembilan pemuda gila di muka gerbang Vrederburgh. Pukul sepuluh tiga puluh kami mulai melangkah menyusur emper Malioboro. Mulai dari Nol Kilometer, Margo Mulyo, Malioboro, Margo Utomo, hingga rel tugu. Para pedagang nampak sibuk mengemas komoditi pencaharian mereka.

“Berjalan sepanjang Malioboro ini ibarat melewati kehidupan dunia,” bisik Talkhis agak filosofis, entah karena sedang ‘in’ atau memang kelaparan, “Berbagai jenis manusia dengan beragam kepentingannya ada. Kanan kiri kita lihat beraneka rupa barang-barang yang menarik. Tapi hakekatnya kita sekedar lewat saja,” ujarnya sambil lirak-lirik pecel bawal di emperan yang tak kuasa ia beli.

Seratus meter sebelum sampai di gang masuk lokalisasi, hujan mengguyur deras. Barang sejam lebih kami berteduh di halaman losmen berkelas. Tepat tengah malam, hujan mereda. Kami lanjutkan penyusuran.

“Wah, rombongan Mas? Berapa orang ini?” tanya seorang pria penjaga kotak retribusi di sudut gang.
“Sembilan, Om!” sahut Irfan sebagai tour-guide saat itu. Kalau kau butuh pemandu wisata ke Sarkem, hubungi saja dia.
“Jadinya delapan belas ribu,” kata pria itu sambil meneliti wajah-wajah kami.

Begitulah, selain penduduk setempat, ada retribusi setiap kali kau masuk kawasan ini. Apapun keperluanmu, dua ribu rupiah per kepala. Begitu masuk, kau akan melihat deretan pintu-pintu kamar di sepanjang gang, warung-warung penjual jamu kuat, serta rentetan stiker himbauan; Kawasan Wajib Kondom.

Semerbak parfum menusuk hidung. Cahaya light-box berpijaran dari ujung ke ujung, memamerkan nama-nama toko, karaoke dan kamar pergumulan. Orang-orang yang tak jelas tujuannya berlalu lalang kesana kemari. Wanita-wanita dengan busana minim menjajakan diri di pintu-pintu ‘surga dunia’. Di antara kami ada yang langsung merinding, gemetaran. Ada pula yang justru antusias menyapu pemandangan dengan bola matanya.

"Mas yang gendut itu pernah kesini kan ya?" sapa sesosok penjaja seks dengan genitnya, merayu-rayu salah satu kawan kami yang memang berbadan tambun.
Fatah, orang yang dimaksud, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil gemeridik, "Nggak, nggak," sergahnya.
"Hihihi, bohong dosa lho Mas, Yaa Allaah.." sahut si penggoda sambil ketawa geli.

Bohong dosa. Ya Allah. Kata-kata itu cukup mencengangkan benak kami. Seakan ada orang memperingatkan tentang panasnya percik api sedangkan ia sedang terbakar di dalam api unggun. Setidaknya kami bisa memahami kesepadanan; orang yang menghimbau tentang kesucian sedangkan ia asyik berkubang lumpur tak lebih dari ujaran seorang pelacur. Entah ia negarawan atau bahkan agamawan sekalipun. Setara.

Ungkapan bermuatan nama Tuhan yang terlontar secara reflek dari lisan penjaja seks komersial itu mengajari kami makna mendalam. Bahwa Dia Yang Mahatinggi bukan hanya Tuhan bagi kaum ‘suci’. Dia juga tumpuan harapan bagi orang-orang ‘kelam’ dan patah hati.

Tapi apakah yang mereka lakukan itu benar? Atau salah? Tidak. Kami tidak sedang membicarakan benar dan salah di sini. Haram tentulah haram, dosa tak perlu lagi dipertanyakan. Apa yang kami upayakan hanyalah menyecap madu-madu kebijaksanaan. Biarpun hanya sepercik.

“Sebenarnya kita ini mau ngapain kesini, Kang?” bisik Sulaiman.
“Kuliah Wisdom!” sambarku singkat.

~

Lorong demi lorong kami susuri. Degup jantung kawasan ini senada dengan sorak sorai dari bilik-bilik karaoke. Nampak pasangan-pasangan liar menari-nari di bawah kerlip lampu disko. Bibir-bibir sayu merayu-rayu.

“Mas.. kesini Mas..”
“Seribu tiga, Mas.. Ayo sini..”

Mukid tak berkedip. Said terlihat begitu bersemangat. Mengusir grogi, kuhisap sebatang rokok.

“Fan, mana koreknya?” pintaku.
“Gak punya. Tuh dibawa Said kayaknya,” timpal Irfan si pemandu wisata. Tolah toleh kucari kemana Said menghilang.
“Itu lho Mas koreknya!” seloroh seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor begitu rupa.
“Mana? Mana?” tanggapku, kaget.
“Itu lhooooo!” ucapnya sambil menelunjukkan jari tangan tepat lurus di antara selangkanganku.
“Hahaha, itu korek tanpa gesekan. Gak bakal nyala,” sahut wanita lain di seberang lorong, dengan dandanan tak jauh beda, “Sini digesek biar nyala! Hahaha!” Sial. Kena juga aku.

“Semua senyum itu palsu,” ucap Pramono, sambil berteduh di beranda rumah warga dari guyuran hujan yang kembali menderas. Ya, kawasan lokalisasi ini pada mulanya memang pemukiman warga. Dan di pintu rumah-rumah yang tak menjalankan bisnis prostitusi tertempel stiker Rumah Tangga. Jadi, kalau suatu saat kau mampir, jangan salah duga.

Kehidupan masyarakat yang termasuk dalam wilayah Sosrowijayan ini berlangsung sebagaimana kampung-kampung lain. Di himpitan ruang-ruang mesum itu ada balai Taman Kanak-kanak. Tempat bermain dan belajar bagi malaikat-malaikat kecil warga sekitar. Ada pula mushalla sederhana, sebagai tempat sembahyang para hamba.

“Apa maksudmu dengan palsu, Pram?” tanyaku heran.
“Ya hanya topeng,” sahut Pramono, “Mereka terlihat tertawa-tawa di bibir. Merayu genit dengan polah tubuh yang menggoda. Padahal mungkin hatinya menjerit pilu.”

Ada benarnya kalimat Pramono, selaras dengan sepotong kisah. Sebut saja namanya Mentari. Salah seorang wanita yang terjebak di lorong ini. Di kampungnya, ia anak pegawai negeri berada. Beberapa tahun lalu ia berangkat ke Jakarta untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di sana. Entah bagaimana mulanya, sang pujaan hati begitu saja pergi. Ia ditinggalkan dalam keadaan bunting.

Menggugurkan kandungan terlalu kejam baginya. Ia rawat janin itu hingga terlahir ke alam dunia, meski tanpa gendongan hangat seorang bapak. Dengan segenap keberanian, Mentari pulang kampung. Alangkah kaget ibu bapak melihat anak gadisnya pulang menggendong jabang bayi. Tanpa suami pula. Ia tak lagi dianggap di tengah keluarga. Harga dirinya hancur dalam pandangan kerabat dan tetangga. Aduhai malang nian ia.

Merasa kasihan, seorang saudara dekat menawarkan diri untuk mengasuh bayi mungil tanpa dosa itu. Sedangkan Mentari sendiri merantau ke Yogyakarta, tanpa ada keinginan untuk kembali. Karena tak lagi mendapat kiriman dari rumah, ia bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan lagi-lagi, entah bagaimana bermula, seorang kawan menyeretnya ke pusaran prostitusi. Ya, di Sarkem ini.

Sudah terlanjur kotor, sekalian saja, katanya. Sebab pengkhianatan lelaki pujaan, penolakan keluarga, dan cemooh manusia, ia kategorikan dirinya sebagai manusia hina. Ia mengais nafkah dengan menjual diri. Dan di sini ia temukan ‘keluarga’ barunya.

~

“Sama sekali gak bikin nafsu. Malah ngeri,” celoteh Fatah sambil kraus-kraus mengunyah kacang bungkus. Jam satu dini hari, kami beristirahat di angkringan seberang PKU Muhammadiyah Kauman.
“Halah, itu kan karena kamu impoten!” seloroh Rijal, pemuda tambun level dua setelah Fatah. “Atau mungkin karena memang kamu belum terbiasa saja,” katanya sambil terus memangsa dua belas tusuk sate. Mengalahkan rekor enam tusuk sate pencapaian Pramono.
Yaah, kalau aku malah risih di sana,” sambung Mukid dengan gayanya yang innocent, tak berdosa. “Aku risih karena nggak bawa duit. Padahal kalau mau main kan setidaknya bawa lima puluh ya, hehe..

Memang, kau bisa melampiaskan nafsu di tempat itu dengan kisaran tarif antara lima puluh sampai seratus lima puluh ribu untuk satu orang. Harga yang terjangkau bagi pelanggan. Mulai dari tukang becak, mahasiswa, pegawai negeri, hingga dosen. Namun dari kunjungan singkat kami, tergambar jelas siapa pelaku dan penikmat bisnis ini.

Mereka adalah orang-orang frustasi. Mana ada wanita yang mau mengorbankan kehormatannya di atas ranjang dengan pria tak dikenal. Selain mereka yang terasing oleh saudara-saudaranya. Tertindas oleh himpitan tanggung jawab penyambung napas. Mana ada orang yang bersuka ria dan menikmati jasa hibur di tempat semacam itu jika bukan karena muak dengan kesehariannya. Bising dengan ceracau kehidupannya.

Dan juga orang-orang gila. Mana ada anak-anak muda yang mau berlarian di tengah malam, menembus hujan, kelaparan, kedinginan, terdampar di labirin gang lokalisasi, dan tak punya tujuan untuk menikmati cumbu pelukan. Selain pemuda-pemua goblok dan agak gila.

“Mereka tak akan berhenti di lorong itu, kuharap,” lanjut Talkhis, lagi-lagi agak filosofis, kali ini dalam keadaan kenyang. “Aku mungkin tak lebih mulia dari mereka. Harus terus berjalan melalui lorong gelap ini. Hingga pada akhirnya nanti berujung khusnul khotimah bersama mereka-mereka itu,” katanya. Wah, lumayan juga gembel satu ini.

Lokalisasi pelacuran adalah permasalahan kemanusiaan multikompleks. Meskipun begitu, tak ada masalah tanpa solusi. Suatu masalah tanpa solusi berarti ia bukan masalah sama sekali. Dan solusi untuk prostitusi tak bisa diincar dari satu atau dua sudut pandang saja. Kau tak akan bisa merumuskan penyelesaian hanya dari sudut pandang agama atau hukum perundang-undangan. Kau butuh lebih dari kepekaan sosial dan empati kemanusiaan.

Apa yang mereka lakoni memiliki latar belakang. Dengan latar belakang itu, mungkin kita yang terlanjur sering merasa suci ini bisa terjerumus dalam kubangan yang sama. Kami mencoba memahami itu, bukan untuk memaklumi atau meridhai. Bukan pula untuk membagi-bagi kategori manusia: si ini bejat si itu mulia. Apalagi mengentaskan, terlalu berat untuk kelas teri macam kami.

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah, manusia suci pengabar kegembiraan dan penyampai peringatan pernah berujar;

Ada seseorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah, lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah, lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.”

Bagaimanapun kacau dan kotornya kita hari ini, semoga tidak berputus asa dan tidak pula membuat orang lain patah hati terhadap kasih sayang Ilahi. Menemui ujung hidup keduniawian kelak dalam indahnya pungkasan usia. Khusnul Khotimah.

~
 Selingkar [o] Sarkem 19 Desember 2013

No comments:

Powered by Blogger.