TURUN GUNUNG

01:00
[lima potong cerita panjang]

Dug dug dug! Pintu depan diketuk, atau lebih tepatnya, digedor.

Pria sepuh itu segera bangkit dari gelaran sajadahnya. Sambil melilitkan sorban di leher, ia bergegas menuju pintu. Hawa malam ini terasa begitu menusuk. Ditambah hujan yang memang sedang musimnya. Orang-orang lebih memilih selimut dan lelap dalam mimpi. Lalu siapa pula orang dibalik pintu yang bertamu dini hari begini.

“Assalamu’alaikum, Kiai..” sapa orang itu, dengan suara berat berwibawa.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Mari, Kang. Silakan masuk,” sambut Kiai Salim mengiring masuk tamunya.

Pria berpeci hitam kemerah-merahan itu bersila di tikar. Kemeja lengan panjang yang terlipat sesiku itu sama lusuhnya dengan celana hitam sebetis yang ia kenakan. Rambut sebahu dan brewok memutih membingkai wajahnya yang nampak terang.

“Man! Tolong buatkan kopi dua ya..” titah Kiai kepadaku yang sejak tadi sibuk membungkus jenang untuk dijual besok pagi di pasar.

“Empat! Bikin empat..” sela tamu itu sambil mengacungkan tiga jari tangan kanannya.

“I.. inggih..” sahutku pelan.

Kiai hanya tersenyum. Aku bingung. Lama sekali aku berpikir di dapur. Tamu aneh ini memang selalu membuat penasaran orang. Beberapa kali aku melihatnya melintas di pasar. Kadang hanya duduk di gardu mengamati lalu lalang warga dengan tatapannya yang tajam sambil komat-kamit tak karuan. Pernah kusapa sekali, ia bergeming tanpa ekspresi. Kawan-kawanku dari lain pedukuhan pun sesekali melihatnya mondar mandir, kadang siang kadang tengah malam. Warga memanggilnya Mbah Rekso, entah nama asli atau bukan, aku tak peduli.

Malah melamun! Duh berapa gelas kopi yang harus kuseduh? Dua? Tiga? Atau empat? Ah, kuputuskan saja sesuai kata hatiku!

“Kenapa lama, Man?” tanya tamu itu saat kubawa nampan ke ruang tamu.

“Ngapunten.. Saya bingung,” jawabku jujur sambil menyuguhkan dua gelas kopi hitam.

Lagi-lagi Kiai hanya tersenyum. Tamu itu menatap tajam gelas kopi di tangannya.

“Kiai, beginilah keadaan yang akan masyarakat hadapi sebentar lagi. Semua bingung. Serba linglung,” bisiknya.

“Maksudmu bagaimana, Kang?” tanya Kiai serius memperhatikan.

“Orang-orang mulai berdatangan menawarkan muka dan bendera. Membuat bingung warga. Apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuat, berbeda! Mereka juga akan datang kemari menemuimu. Kau harus bersikap sebagaimana mestinya, Kiai.”

Kiai manggut-manggut mengiyakan.

Hening sejenak, tamu itu memandangku, “Kau pasti bingung. Tapi akhirnya kau memilih menuruti perintah kiaimu. Dan memang itulah yang sesuai. Tetaplah begitu!”

Setelah mempersilakan, aku beringsut menarik diri. Sepertinya Kiai menahan kata-katanya karena keberadaanku di situ. Kulanjutkan pekerjaanku di balik dinding bambu. Membungkus tiga keranjang jenang dengan lipatan daun pisang. Meski lirih, masih bisa kudengar obrolan orang-orang tua ini. Masih bisa kuintip ekspresi wajah mereka dari sela anyaman bambu.

“Kang, tentunya ada hal lain yang membuatmu turun. Bukan sekedar tentang hingar-bingar pemilihan itu ‘kan?”

“Hmm.. Bagaimana kabarmu, Kiai?”

“Alhamdulillah Kang, seperti kau lihat ini.”

“Santri-santri?”

“Yaa mereka anak-anak muda yang bersemangat.”

“Mujahadah Selasa Wage masih jalan?”

“Ya, tentu saja, Kang.”

“Bagus!”

“Sudah dua selapanan aku tak melihatmu di samping gapura masjid. Biasanya kau anteng disana, Kang..”

“Ada tanggungan yang perlu kubereskan.”

“Baarokallah!”

“Begini Kiai..”

Mbah Rekso menyeruput kopinya. Tuan rumah nampak begitu khidmat menyimak apa yang akan tamunya utarakan. Jujur, aku pun penasaran, baru kali ini kudengar gelandangan aneh itu mengobrol dengan orang lain.

“Akhir-akhir ini kau lihat anak kecil pincang yang berjualan kayu di pasar?”

“Ya Kang. Sepertinya dia bukan anak dukuh sini.”

“Dia dari Dukuh Gentingan. Sebulan yang lalu aku menemukannya sekarat, kakinya patah. Dia dikeroyok beberapa pemuda karena nyolong ayam.”

“Masyaallah!”

“Bapaknya sudah mati. Ibunya tak bisa bangun dari dipannya, lima tahun sakit parah.”

“Ya Allah.. Ya Allah..”

“Lalu kuajak dia ke hutan buat memungut kayu bakar. Sekarang seperti yang kau lihat, Kiai, dia jualan di pasar.”

“Besok akan kutengok keadaan di rumahnya, Kang.”

“Bagus! Tapi ada tujuh anak semacam itu di sana, Kiai. Di pedukuhan ini pun ada tiga anak yang perlu kau perhatikan.”

“Betulkah?! Astaghfirullaah..”

“Jumat kemarin aku mampir di penggilingan Dukuh Balang. Kau ingat Karyo yang merantau ke Jakarta itu, Kiai?

“Iya, beberapa tahun lalu sowan kesini.”

“Ibunya terlantar sekarang. Dia mengais ceceran beras di penggilingan buat makan.”

Kiai kaget bukan kepalang. Apalagi aku! Lha wong Karyo itu masih terhitung sepupu jauhku. Memang dia lama tak pulang, dan kabarnya sudah sukses jadi semacam pembantu artis di ibukota. Tapi masa iya dia tak sempat kirim uang buat ibunya?!

“Laa Ilaaha illa Allaah.. Akan kuusahakan Kang, insyaallah..”

Kiai menyeruput sisa kopinya yang tinggal separo. Hujan mulai mengerdil jadi gerimis di luar. Dini hari begini, biasanya Kiai keliling gothakan pondok, memeriksa keadaan dua puluh lima santrinya, termasuk aku. Ini memang pesantren kecil, kitab-kitab yang kami pelajari pun bisa dibilang kecil bila dibandingkan dengan teman-temanku yang nyantri di Jawa Timur-an sana.

Di sini, kami hanya mengaji di malam hari, siangnya kami bekerja. Masing-masing punya bagian pekerjaan sendiri-sendiri. Aku dan Marwan bergantian menjual jenang hasil olahan santri. Hasilnya untuk keperluan hidup kami di pondok sehari-hari. Kiai mau kami hidup mandiri dan tidak manja. Beliau sedih bila melihat anak muda nganggur, apalagi sampai berbuat nakal atau terlunta-lunta. Mungkin itu yang membuat Kiai sedih mendengar tamunya bercerita.

“Beberapa petani di Dukuh Kecipir lagi kesusahan.”

“Ada apalagi Kang??”

“Lintah darat!”

“Maksudmu, Bank?”

“Ya bank-bank kremi itu. Mereka menjerat leher sedulur-sedulur kita.”

“Bukankah sudah ada koperasi tani yang mengurusnya, Kang? Seharusnya perihal pupuk dan benih sudah bukan masalah lagi, ‘kan?”

“Aku hanya menyampaikan apa yang kutahu. Justru masalahnya ada perbedaan antara kenyataan dengan yang seharusnya.”

“Jadi maksudmu ada penjahat di sana, Kang?”

“Tentu saja!”

“Lalu aku musti bagaimana? Itu bukan kewenanganku, Kang.”

“Kau pewaris Kanjeng Nabi!”

Intonasi Mbah Rekso agak keras kali ini. Matanya melebar dengan kedua tangan bertopang pada lutut. Kiai tertunduk dan beristighfar berkali-kali. Dadaku sampai deg-degan mendengarnya. Setelah menghela napas, Mbah Rekso lanjutkan ucapannya,

“Begini, Kiai. Aku tidak sedang mengajarimu untuk berbuat ini dan itu. Kau sendiri tahu apa tugasmu. Bila kita tak mampu menahan gunung runtuh, setidaknya selamatkan diri sebelum itu terjadi.”
Kiai masih hening.

“Tidak hanya kau yang kuajak bicara. Kau salah satu simpul dari ikatan, Kiai. Jika satu lepas, semua bubar. Maka masing-masing simpul harus melaksanakan tugasnya dengan tegar.”

Kiai manggut-manggut. Menghela napas. Matanya agak berkaca-kaca.

“Bukit di atas Dukuh Krekel sudah gundul. Alas Jabon sudah habis ditebang orang-orang serakah.”

“Bukankah dulu sudah ada perjanjian tentang aturan tebang-tandur, Kang?”

“Sekuat apapun orang berjanji belum tentu ia kuat menepati, Kiai!”

“Mereka ingkar?”

“Begitulah.”

“Nah! Kenapa tidak kita gugat sanksi?”

“Gugatan selalu kalah dengan uang.”

“Maksudmu Mas Lurah, Kang?”

“Bukan, bukan. Dia juga salah satu simpul sepertimu..”

“Kalau bukan dia, berarti… oknum aparat!”

“Ya. Mereka punya tawaran sekaligus ancaman.”

“Yaa Allaaah.. Apa sebenarnya yang sedang kami hadapi ini.. Yaa Allaaah..”

Kiai menyandarkan punggung ke tiang jati. Mbah Rekso menyeruput sisa kopi yang nampaknya mulai mendingin. Dari sela anyaman, kulihat jelas raut muka penuh beban di wajah keduanya. Bedanya, Kiai bagai orang kebingungan di mulut hutan. Sedangkan tamunya itu seakan paham betul peta hutan yang akan dia susur. Aku jadi kasihan pada Kiai. Akibat berita-berita tamu ini, ia jadi lesu. Padahal si tamu sendiri belum tentu bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ia adukan itu.

“Kalau mau biar aku saja yang bungkus jenang! Kau gantikan posisiku!” teriak Mbah Rekso lantang sambil menengok ke arahku.

Deg! Darimana dia tahu benakku. Kubekap mulutku dengan kedua tangan. Sumpah! Aku tak berkata seucappun dari mulut ini. Kiai tidak kelihatan kaget sama sekali, ia masih bersandar di penopang atap. Aduh, kapok aku. Maaf, Mbah, maaf, bisikku dalam hati. Semoga dia dengar.

“Tak usah terlalu khawatir, Kiai. Kau takkan ditagih sesuatu yang bukan tanggung jawabmu. Kau jalani saja tugasmu. Orang-orang butuh bimbingan, biar tahu mana yang benar mana yang tidak. Kau tuntun biar hati mereka tenteram. Jadi tenteramkanlah hatimu dahulu.”

“Matursuwun, Kang.. Doakan saya..”

“Faatehah!”

Kedua orang yang nampak begitu akrab itu senyap. Kiai menundukkan kepala sambil melafalkan al-Fatihah. Tamunya menengadah sambil memejamkan mata. Sejurus kemudian ia permisi. Keluar melalui pintu ia masuk, menerobos hujan yang mulai melebat lagi.

[ i ]

The Ragman by Eduard Manet
The Ragman by Eduard Manet

“Nanti kamu mampir ke rumahnya Mbok Minah, kamu titip jenang lima bengket. Katanya beliau mau ikut jualan keliling,” kata Ibu Nyai saat aku hendak berangkat ke pasar. Wah kebetulan, bisa sekalian menyapa Nuri yang manis itu, pikirku.

Embun masih terasa, melembabkan wajah desa. Meski langit sudah terang, matahari belum menampakkan dirinya, tertutup kabut dan awan pagi. Marwan sudah menungguku di lapak biasa. Hari ini memang giliran dia menjaga dagangan karena aku sudah lembur semalam.

“Man! Sulaiman!”

Seru suara cempreng memanggilku. Ah itu Cipto, anak Pak Lurah. Dia mengajakku ngobrol di gardu pojok pasar, sambil menawarkan tembakau lintingan.

“Man, nanti malam temenin aku ya!”

“Kemana?”

“Ke lapangan deket Krekel itu.”

“Lhoh, ngapain? Ada wayang to?”

“Bukaaan. Nanti sore kita ambil tenda-tenda dari gudang di balai desa, terus kita bawa ke sana.”

“Lhah ada perkemahan dari sekolah mana? Kok mendadak banget?”

“Aah. Gini ceritanya,” katanya sambil menyalakan batang tembakau, “Menjelang subuh tadi ada tamu ke rumah, ketemu bapakku.”

“Siapa?” aku mulai curiga.

“Mbah Rekso!”

Ah, sudah kuduga meski tetap saja kaget. Biar Cipto lanjutkan ceritanya dulu.

“Dia datang waktu aku baru pulang ronda. Mau ketemu lurah, katanya.”

“Mereka ketemu?”

“Iya, barang beberapa menit saja. Aku sempat nguping obrolan mereka.”

“Apa? Apa?”

“Tidak banyak. Dia bilang bapak musti siap-siap, tapi tak jelas untuk apa. Kemudian dia minta bapak siapkan perlengkapan ungsi.”

“Tenda-tenda itu? Buat apa?”

“Entahlah. Disuruh dibawa ke lapangan Krekel nanti malam. Lalu bapak menyuruhku menjaganya di sana. Buat apa coba?”

“Lhah bapakmu nggak tanya?”

“Ah, bapak kalau sudah ketemu Mbah Rekso itu kayak dicocok hidungnya, tunduk.”

“Hah? Memang bapakmu sering ketemu Mbah Rekso?”

“Tak tahu. Tapi sudah dua kali aku melihat mereka ngobrol. Ya begitu itu, singkat.”
Cipto menyela kisahnya dengan semburan asap berwangi menyan. Aku makin penasaran dengan sosok Mbah Rekso ini. Kawanku menyambung ceritanya.

“Dulu aku lihat bapak ketemu Mbah Rekso beberapa minggu sebelum pemilihan lurah. Kau tahu ‘kan, bapakku tak pernah berniat nyalon. Dia tak punya apa-apa buat dijagokan.”

“Mbah Rekso yang nyuruh?”

“Ya begitulah. Dan anehnya, mereka yang jauh lebih kaya dan punya nasab tersingkir, bapak malah jadi. Padahal bapak cuma kampanye sekali, ya saat hari pemilihan itu thok!”

“Iya, aku ingat saat itu. Tapi bapakmu memang cocok jadi lurah, To.”

“Ya kalau saat itu nggak disuruh Mbah Rekso, mana mau bapakku jadi lurah. Kau tahu, setelah pensiun merantau, bapakku ‘kan sibuk bertarekat.”

Siapa sebenarnya Mbah Rekso ini, makin tebal saja lapis-lapis keingintahuanku. Orang-orang bilang dia tinggal di hutan bersama pepohonan dan hewan-hewan. Dia nongol di desa tak tentu wayahnya, itupun sangat jarang. Yang pasti, dia selalu muncul saat warga desa berkumpul di pesantren untuk bermujahadah setiap selapanan. Persis seperti kata kiai semalam, biasanya ia duduk di belakang ratusan jamaah, di samping gapura masjid sambil berpayung hijau rusak.

“Tapi tetap saja aku tak suka sikap bapak yang terlalu nurut sama orang itu, Man!”
Aku tak berkomentar. Masih kuingat betapa intim obrolan Mbah Rekso dengan kiai semalam.

“Masa’ aku juga digampar?!”

“Lhoh! Siapa yang berani gampar anak lurah, To?”

“Ya Mbah Rekso itu!”

“Semalam?”

“Iya!”

“Walah! Kenapa?”

“Seenaknya saja dia suruh aku melakukan sesuatu yang mengerikan! Jelas aku nggak mau, eh pipiku ini malah digampar, edan!”

“Buset! Emangnya kamu disuruh ngapain?”

“Ah nanti malam aja kita cerita. Nggak enak mau cerita disini.”

Kurang ajar, dia malah menimbun penasaran. Aku tak tahan lagi.

“To, semalam Mbah Rekso juga ke ndalem kiai lho..” bisikku pelan.

“Benarkah?! Ngapain?? Mereka ngobrol juga?? Apa yang dibicarakan? Kamu kena gampar juga??” tanyanya memberondong.

“Ah, nanti malam saja kuceritakan,” balasku puas, “Oke, kapan kita ambil tendanya?”

“Haaaisy kuupret..” keluhnya, “Ba’da Ashar kita bongkar gudang. Pokoknya sebelum ‘isya kita harus sudah bawa semuanya ke lapangan. Begitu kata bapak.”

“Siap! Nanti aku minta izin dulu ke kiai.”
Aku pamit pergi. Rasanya aku musti tidur dulu barang beberapa jam. Buat bekal melek malam nanti. Memang Cipto ini sering kutemani ngobrol sampai larut pagi. Mukanya terlihat masih memendam rasa ingin tahu, salah sendiri tak berbagi cerita.

“Jangan lupa sesajennya ya To!” teriakku sambil lalu.

“Hahaha! Tremos, kopi, kacang rebus, samsu, kartu remi, semua siaap!” sahutnya melambai.

[ ii ]

Wanderer by Taylan Soyturk
Wanderer by Taylan Soyturk

Krik krik krik krik. Cengkerama jangkrik tak bosan untuk disimak. Cipto sedang sibuk membuat api unggun, kugelar terpal di tepi lapangan. Malam jadi tambah gelap karena mendung. Tumpukan tenda-tenda lama teronggok di bak mini kol yang terparkir tak jauh dari tempatku duduk menyeduh kopi.

“To, perutku mules! Aku ke kali dulu ya!”

“Ya sana! Sekalian cari jangkrik ya buat disate!”

“Halah, kere! Kau masih utang cerita!”

“Kau juga, Man! Hahaha!”

Segera kutuju kali kecil di mulut hutan. Rasanya perutku tak mau kompromi gara-gara mangga tiga buah sore tadi. Mumpung belum terlalu malam, kukeluarkan saja sekarang.

Dari kejauhan, kulihat unggunan api Cipto nampak menyala terang. Lapangan itu persis terletak di tepi alas Jabon. Jarak tiga ratusan meter sebelah utara, ada pedukuhan kecil yang masih bagian dari Desa Wanayu ini. Hanya terdapat lima belas sampai dua puluh bangunan merumpun di Dukuh Krekel itu. Diapit tiga bukit pinus, pemukiman itu biasanya nampak mempesona saat terang bulan.

Sekelebat cahaya menarik perhatianku saat hendak kembali ke tenda-tenda. Arahnya dari hutan tempatku buang hajat. Tanpa pikir panjang, kuburu cahaya itu. Gerakannya agak cepat dan membuatku kewalahan. Dengan berlari kecil, bisa kulihat benda yang ternyata obor itu.

Seseorang yang nampak samar memegang obor sambil tangan kirinya membawa entah apa. Mungkin tas atau keranjang. Masih puluhan meter jarak pandanganku ke punggung lebarnya. Dia terburu-buru. Dia lari aku lari.
Brak! Kakiku tersandung akar.

Semak-semak dan pepohonan menyulitkanku mengikuti gerak lincahnya. Hingga ia pun menghilang di balik rumah-rumah warga. Tak terasa aku terseret sampai di Dukuh Krekel. Aku kehilangan jejak. Pembawa obor itu lenyap ditelan malam. Sialan.

Ah, paling dia warga sini yang kebetulan kemalaman pulang. Pasti Cipto sudah khawatir mencari-cari, sebaiknya aku segera kembali ke lapangan.

Baru beberapa puluh meter melangkah, kudengar sayup-sayup teriakan di belakang.

“Toloooong! Tolooooong! Tolooooong! Tolooooooong!”

Masyaallah! Sebuah rumah terbakar besar! Aku bergegas sekuat tenaga melempar langkah mengejar api. Seseorang memukul kentongan bertalu-talu di langgar.

“Kebakaraaaan! Kebakaraaaaan!”

Beberapa orang mondar-mandir keluar masuk rumah selamatkan barang-barang. Segelintir yang lain berdatangan membawa timba menawarkan bantuan.

“Aiiiiir! Aaaaiiiir! Ambil aaaaiir!”

Tak selang kejap, sebuah rumah di ujung yang berbeda terbakar pula! Edan! Warga kocar-kacir. Tak tahu mana yang harus diselamatkan. Dalam beberapa menit saja api sudah menyebar ke rumah-rumah lain yang semuanya berkayu. Tak mungkin dipadamkan. Tak ada pilihan lagi selain memboyong barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan.

“Sudah! Keluarkan semuanya! Selamatkan keluarga dan harta benda!” teriak seorang bapak lantang.
Pedukuhan yang senyap itu jadi riuh dalam sesaat saja. Hanya beberapa rumah yang belum terlalap kobaran. Allahu Akbar! Ibu-ibu yang baru bangun menjerit histeris tak karuan. Bocah-bocah berjongkok menangis di latar, sementara ayah-ayah mereka sibuk mengangkut barang-barang berharga keluar.

Kacau sekali!

Pandanganku kabur, hampir kehilangan akal. Mataku menubruk sosok yang berdiri tenang beberapa puluh meter di sela-sela pepohonan. Dan dia memegang obor! Sekarang terlihat jelas, benda yang dijinjingnya itu jligen. Aku yakin itu bensin atau solar! Aku kenal wajah itu, bajingan! Dia lari ke arah hutan. Tak ada waktu mengejarnya. Aku harus membantu warga semampuku di sini.

Ah! Tenda-tenda itu!

[ iii ]

Melihat kobaran api dari kejauhan, ternyata Cipto berinisiatif mendirikan tenda-tenda. Dia memang pemuda cerdas dan cekatan, meski kadang arogan. Kami tak sempat ngobrol banyak, masih banyak orang yang musti dibantu daripada sekedar berbagi cerita.

Seratusan orang beserta enam belas kepala keluarga sudah berkumpul di lapangan. Membawa harta benda berharga yang masih bisa diselamatkan. Beberapa orang nampak menangis, saling peluk meratapi nasib sambil memandang dukuh mereka yang merah membara. Untungnya tak ada korban jiwa, hanya ada enam orang terkena jilatan api, itupun sekedar luka bakar tak seberapa.

Mendung di langit semakin berat. Gelegar guruh menandakan hujan segera tiba. Benar saja, rintik hujan mulai turun, semakin deras, semakin lebat. Menambah suasana duka hati warga yang meringkuk berteduh di tenda-tenda. Tapi setidaknya hujan ini bisa membunuh si jago api, meskipun rumah-rumah itu sudah tak bersisa lagi.

GLUURRR! GLEGARRR! GLUURRR!

Badai di luar begitu menyeramkan, bunyi guntur terdengar menghantam lebih keras dari biasanya. Jalanan di luar pasti berbahaya. Besok pagi saja aku melapor ke pondok, toh beberapa jam lagi fajar menjelang. Semalaman kami hanya saling menenangkan. Bapak-bapak membicarakan desas-desus sebab kebakaran. Sementara ibu-ibu menemani anak-anak mereka agar bisa terlelap kembali.

DHUUUURRR! GLUOOOORRRR!

Suara-suara seram itu berhenti terdengar setelah subuh. Hujan pun menjinak jadi rintik-rintik. Sebagian warga masih nampak lelap sebab kelelahan, sebagian yang lain masih berjaga sepanjang malam. Secara bergantian, kami gunakan ruang kosong di dalam tenda untuk sembahyang.

“Man! Man! Sulaiman! Cepat keluar!”

Terdengar Cipto memanggilku, tepat setelah kedua salam. Cepat-cepat aku keluar tenda. Ternyata warga pun sudah berkumpul di luar tenda, memandang sisa kampungnya. Langit sudah agak terang, cerah menguning. Matahari menyembul dari balik… Ya Allah!

“Bukit itu To!” teriakku sambil menuding-nuding Alas Krekel.

“Hancur! Tinggal separo!” sahut Cipto sama antusiasnya.

Semua mata terpaku menatap pemandangan di depan sana. Dua bukit yang mengepung Dukuh Krekel ambruk melongsor. Tak terlihat lagi bentuk pedukuhan itu maupun puing-puing sisa kebakaran semalam. Semua ludes! Hanya terhampar timbunan tanah segar, bebatuan, dan beberapa gelontor pohon yang tumbang! Tak terbayang jika masih ada orang di sana, semua pasti sudah terkubur tanpa nyawa.

“Man,” bisik Cipto sambil menatapku tajam, “Aku baru tahu kenapa aku digampar..”

“Oleh orang yang membakar kampung itu?”

“Hah! Jadi dia benar-benar melakukannya! Kau melihatnya Man?!”

“Iya. Dengan bola mataku ini! Memang kenapa kau digampar?”

“Setelah obrolan bapak dengannya, dia memanggiku. Dia tahu aku sedang menguping di balik kamar. Dia perintahkan aku untuk membakar kampung ini. Jelas aku tak mau melakukan hal keji semacam itu, Man. Bapak memaksa, aku malah membentak bapak dengan kasar. Langsung saja mukaku digampar keras sekali hingga jatuh di ubin.”

“Oleh Mbah Rekso?”

“Ya..” sahutnya sambil mengelus pipi, “Mungkin karena tak ada orang lain lagi, akhirnya dia lakukan itu sendiri.”

Percakapan kami terhenti oleh pemandangan yang makin jelas terpampang, disorot matahari yang sudah naik satu jari. Sebuah kampung yang telah mati, tertimbun lelehan bukit yang tak lagi kami kenali.

[ iv ]

“Ada banyak kerusakan yang kita sebabkan bersama. Sebagai manusia, kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab ini. Dan kita tidak bisa memperbaikinya sendiri,” ucap kiai sambil berdiri memandangi sisa-sisa Alas Jabon. Kami manggut-manggut tanda setuju.

Hari ini, seminggu setelah longsor, seluruh santri beserta warga dukuh diajak naik ke sisa bukit. Masing-masing dari kami membawa dua bungkus bibit pohon. Kami menggelar kenduri di sana, selametan. Selesai tahlil, kiai berdiri melanjutkan kata-katanya,

“Kita harus bersiap-siap dengan apapun yang akan kita hadapi. Tak usah terlalu khawatir, jangan pula terlalu jumawa. Bagi kita, masa depan itu misteri. Mulai hari ini kita akan mulai pelan-pelan..”

Kiai menyapukan pandangan ke arah hutan di kanan kiri. Lalu diambilnya sebungkus bibit pinus. Kami pun mengikuti langkahnya. Ia mengatur posisi kami sesuai jarak tanam yang sesuai. Wajahnya bersemangat berukir senyuman.
“Ayo mulai! Jangan lupa ya, bacakan Fatihah dulu sebelum menanam. Bismillaah..”

Beberapa ratus meter di selatan, samar-samar kulihat Mbah Rekso tegap memerhatikan kami. Penampilan dan hawanya masih sama seperti ketika kulihat ia di pasar, di ndalem kiai, dan saat membawa obor setelah membakar rumah-rumah warga. Kemudian ia berbalik, berjalan di antara pepohonan dan hilang di balik rimbun ilalang.

[ v ]

Memandang Perbukitan by Budhe
Memandang Perbukitan by Budhe
Yogyakarta, 14 Mulud 1435

1 comment:

  1. Aku tenggelam dalam alur cerita yang menegangkan. Aku jadi ingat sosok kyai tawakkal dalam lukisan kaligrafi gus mus. Sosok yang misterius sekaligus sarat akan hikmah. Aku juga ingat khidir. Good job kang.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.