Siapapun Presidennya, Rakyat Majikannya!

01:56
PEMILU: Pemilihan Umum atau Pemilihan Lutung?

Hidup memang bukan pilihan. Apakah ada acara tawar menawar dengan Tuhan sebelum penciptaan? Kalau ada, mungkin aku sudah minta jadi angin saja.

Agar aku bisa mengiringi kemanapun kau pergi, membelai tanpa menyentuhmu, merengkuhmu biarpun tak memiliki, dan membisikkan puisi tepat di telingamu. Eaaa, malah ngegombal. Tapi di dalam hidup memang penuh pilihan. Ada berbagai jalan bercabang dalam perjalanan hidup anak manusia.

Makan pakai sendok atau tangan? Cukur botak atau gondrong? Minum teh atau susu? Berak duduk atau berdiri, eh, nongkrong? Itu semua pilihan. Termasuk kemana kau sekolah dan mau apa di hari kemudian. Pada dasarnya, proses memilih adalah privasi yang menjadi hak dasar. Bahkan hingga dalam pilihan beragamapun, konon, tiada paksaan. Laa ikrooha fi ad-diin. Apalagi dalam pemilihan umum 9 April mendatang, laa ikrooha fi pemilu.

Tapi kuharap kau tak golput, kawan. Sayang sekali kalau surat suara, kotak kaleng, dan petugas-petugas yang biayanya miliaran itu tak dimanfaatkan. Kalau Hari-H tak ada bencana alam, maka datanglah ke TPS tanggal sembilan nanti, lalu cobloslah. Perkara siapa yang kau coblos atau mungkin semuanya akan kau coblos, itu terserah!

Nah, sebagaimana diserukan Bang Iwan Fals dalam konsernya di Monas malam Ahad lalu, memilih presiden –atau pemimpin- bagai memilih jodoh. Harus kita tahu bibit, bebet dan bobotnya. Setidaknya kita musti tahu rekam jejak sekian banyak pasangan calon yang diusung belasan partai politik itu.

Memang belum semua partai mengumumkan siapa jagoannya. Namun sudah ada beberapa nama yang belakangan ini bertamu ke rumahku. Lewat layar televisi tentunya. Begitu gencarnya pencitraan hingga hal-hal sepelepun diberitakan. Apalagi di media online, wuih ngeri!

Bak selebriti, semua kegiatan si jagoan dipertontonkan di televisi. Mulai dari meninjau pasar, blusukan ke selokan, orasi di lapangan, ngobrol dengan orang pinggiran, sampai gendong dan cium bayi ingusan, betul-betul ingusan. Hiiih. Seingatku, sosok yang semua kegiatannya dipertontonkan adalah topeng monyet. Sarimin pergi ke pasaaar, dung dung dung dung! Sarimin makan gorengaaan, dung dung dung dung! Sarimin baca tulisan iniiiii, dung dung dung dung!

Ada Si Macan Asia, begitu kata televisi. Ia adalah sosok jenderal yang cerdas, ambisius, tegas dan berani. Pribadinya yang nampak gagah menjadi harapan masa depan cerah negeri ini. Apalagi bila dibandingkan dengan gaya lembek dan cengeng pemimpin sekarang. Tapi kekelaman citranya di masa orde baru menjadi hal yang patut diwaspadai. Sebagai menantu penguasa orde baru, ia termasuk dalam lingkup ‘kroni’. Berbagai indikasi pelanggaran hak asasi, kezaliman fisik, hingga tindak korupsi tertuding ke wajah Si Macan Asia ini.

Ada lagi Si Ideolog, itu juga kata televisi. Bos media yang begitu berapi-api orasinya. Indonesia bersih adalah cita-citanya. Ide restorasi yang dicuatkannya bagai sinar terang sang surya yang menerangi gelapnya Indonesia. Namun ada kejanggalan ketika ia mencetuskan partai politik baru melalui ormas yang sebelumnya ia bentuk. Karena hal ini justru menjadi bukti bahwa sosok brewokan ini tega memanfaatkan dukungan orang lain demi kepentingan sendiri.

Adapula Si Gembel, itu yang dipertontonkan televisi. Berkali-kali ia menyamar menjadi seorang pengemis, asongan, atau gembel. Lalu dengan aktingnya itu, ia berkomunikasi dengan rakyat kecil di pasar, sesekali diusir satpam. Dan tentu, setelah itu identitasnya dibuka, disusul bersalaman dengan rakyat yang nampak begitu mencintainya. Perlu diingat, saat reformasi dulu, ia dimandati kewenangan oleh mantan penguasa untuk memulihkan ketertiban. Ia juga pernah ditawari poros tengah untuk menjadi capres. Tapi semua kesempatan itu tak diambil. Entah karena dia kurang tegas atau memang lagi nggak mood. Ia juga sudah dua kali gagal dalam pemilu. Mungkin kali ini dia mau coba sekali lagi. Kalau ketiga kali ini gagal maning gagal maning, maka dia pantas mendapatkan satu buah piring unyu bergambar Hello Kitty.

Ada Si Kuning, seperti kata iklannya di televisi; padi sudah mulai menguning. Seperti feses, sahutku. Dia ini salah satu pribumi terkaya di negeri ini. Pribumi kaya yang menguasai berbagai sektor usaha besar di tengah-tengah dominasi asing tentu patut dibanggakan. Partainya mengakar kuat di masyarakat dan daunnya merindang dengan cabang-cabang yang menyeruak kemana-mana, bak pohon beringin tua yang kokoh tanpa tanding. Namun dia tentu tidak sendiri, partainya adalah rumah besar bagi kader-kader tempaan orde baru. Sepertinya rakyat sudah muak terhadap partai yang namanya kadung tercemar oleh noda-noda korup di masa lalu. Itupun kalau belum lupa.

Ada Si JKW4P, nama kampanyenya ini mirip nama girlband unyu-unyu itu. Dia capres paling fenomenal saat ini. Tingkahnya yang sederhana dan apa adanya telah memikat hati rakyat. Dialah trend-setter gaya blusukan sebagai cara ampuh berkomunikasi dengan rakyat kecil secara langsung. Banyak kalangan kepincut dengan sosok satu ini. Aksinya mencium Sang Merah Putih sesaat setelah mendapat mandate dari bos besar untuk maju di gelanggang pemilu menunjukkan betapa ia mencintai negeri ini. Tapi tunggu dulu, ada yang aneh dengan kecemerlangan citranya yang melejit secara singkat itu. Mulai dari ribut-ribut dengan gubernur di daerah asal, kemeriahan dan penyelesaian permasalahan ibukota, hingga pencalonan dirinya sebagai presiden. Konglomerat-konglomerat busuk konon menjadi mafia di belakangnya. Bila ia berkuasa, resiko terrendah adalah makin ganasnya kapitalisme asing di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Begitu asumsinya.

Lalu bagaimana dengan Si Raja Dangdut? Ah, no komen lah. Ter-la-luh!

Melalui media, mainstream maupun alternatif, kita bisa dengan mudah mengenal para capres, baik prestasi maupun aibnya. Tinggal bagaimana sikap kita, mau kalah dan terlalu kagum dengan pencitraan seperti periode sebelumnya ataukah mau bersikap biasa-biasa saja.

Guru kami selalu mengajak (bukan menyuruh atau sekedar menganjurkan, apalagi memerintah) para mbambung ini untuk bersikap eling lan waspada. Ingat terhadap hal yang telah lalu agar bisa waspada terhadap apa yang akan dan mungkin terjadi. Serta menghadapi fenomena apapun, siapapun, dimanapun, kapanpun serta bagaimanapun dengan sikap Ora Gumunan dan Ora Kagetan. Itu jurus ampuh!

Ora Gumunan (tidak mudah kagum) dengan sorban dan jubah, gelar dan pangkat, jas dan pantalon, fulus dan sembako, apalagi sekedar buku biografi, film dan pencitraan di media massa. Ora Kagetan (tidak mudah kaget) dengan pemberian dan pengambilan, anugerah dan bencana, benci dan cinta, apalagi sekedar puas dan kecewa.

Jurus ampuh tersebut mengarahkan potensi masyarakat, individu maupun kolektif, agar mau dan mampu bergerak tanpa menggantungkan nasib pada siapapun selain Tuhan. Bukan kepada pemerintah daerah, pemerintah pusat, negara, apalagi sekedar presiden. Semua perangkat itu diposisikan hanya sebagai pembantu. Bukan tuan atau majikan.

Rakyat harus menjadi majikan di rumah sendiri. Hati rakyat begitu luas melebihi samudera, sehingga mampu bertahan hidup meski berkali-kali ditikam dan dibantai orang-orang pilihannya sendiri. Memang para pembantu niscaya ada, untuk mengurusi perkara-perkara administratif kenegaraan. Tapi untuk urusan hidup, rakyat harus bisa mandiri dan merdeka dari mental jajahan. Rakyat tetap akan mempertahankan kehidupannya, kekayaan budayanya, kehangatan sosialnya serta etos kerjanya. Tanpa perlu bergantung pada siapapun presidennya.

Kondisi ini mirip seperti gurauan ibuku tempo hari. Ketika asam lambungku kumat, mendadak keringat menderas dan tubuhku melemas. Setelah kuambil setengah piring nasi, kulahap puluk demi puluk sambil berbaring tak berdaya, ibuku bilang;

“Biar pola makan dan istirahatmu teratur, nggak telatan dan nggak begadangan, beraktivitas seperlunya dan nggak kecapekan, maka kamu harus bisa mengatur gaya hidupmu sendiri. Atau cari babysitter!”

Aha! Jenius! Pernyataan praktis dan filosofis!

Pilihan pertama, aku harus bisa mengambil langkah revolusioner. Yakni dengan mengubah gaya hidupku menjadi lebih sehat dan tertata. Sebagaimana rakyat bisa tetap tertawa dan berbahagia di tengah keliaran rimba penguasa yang begitu rupa. Penyakit kronis di tengah masyarakat semestinya tidak hanya diobati, melainkan juga harus melalui terapi sosial. Pemulihan orientasi hidup yang lebih sehat, serta anak-anak muda yang mau berpikir dan bertindak sehat. Selangkah demi selangkah. Intinya, aku musti revolusi gaya hidup!

Pilihan kedua, cari babysitter alias pengasuh pribadi. Ah, opsi ini mending tak usah kita bicarakan.


~
Tegal, 17 Maret 2014

No comments:

Powered by Blogger.