Melek Konteks

02:02
Ndasmu
Seperti biasa, ini poseku waktu sarapan buah di bawah pohon Tanjung depan kos-kosan. Menggambar ilustrasi absurd, latihan irama Tombo Ati pakai harmonika, sambil merenungkan nasib bangsa dan negara yang nampaknya makin tak peduli pada jomblo macam kami. Eh, nggak ding.

Akhir-akhir ini kupingku bludrek dan mataku pedes sebab ricuhnya sesama muslim saling lempar pendapat tentang Natal beserta bermacam derivasinya. Mulai dari ucapan ‘Selamat Natal’, atribut kupluk Sinterklas, hingga ceramah kiai di gereja.

Padahal kita-kita yang ribut belum tentu betul-betul paham apa yang dibicarakan. Lahdalah!

Aku sependapat bahwa kita harus berpegang teguh pada nash dan teladan para salaf, namun harus kontekstual dong. Aku juga sepakat kita harus bersikap toleran, tapi musti tetap menjaga muruah (kehormatan) dan haibah (wibawa) risalah dong. Ini konsep dasarku.

Maka, sebagai muslim, penyikapan terhadap fenomena Natal semestinya melek konteks ruang dan waktu. Ketika aku ditanya apakah boleh mengucapkan ‘Selamat Natal’? Ya tergantung siapa yang mengucapkan, dimana, kapan dan bagaimana.

Kebetulan beberapa kawan akrabku beragama Kristen. Ya secara sosial kuucapkan selamat merayakan Natal. Apakah itu berarti aku rela mereka menuhankan Nabi Isa sebagai putra Tuhan? Tentu tidak, Kisanak! Natal adalah momen kelahiran Isa ke dunia, terlepas dari perbedaan keyakinanku sebagai muslim ataupun dia sebagai pemeluk Kristen.

So, kuucapkan selamat atas dasar tenggang rasa sosial dan pemahaman bahwa momen itu hanyalah peringatan kelahiran Baginda Isa ‘alaihissalam. Meskipun aku juga paham bahwa tradisi perayaan Natal tiap 25 Desember adalah kreasi gereja ortodoks era pertengahan. Lagipula, saat umat Kristen memperingati hari disalibnya Yesus (menurut mereka), aku tak akan pernah mengucapkan selamat. Karena dalam hal ini kami sudah berbeda konsep sama sekali.

Kaifiyah (tata cara) pengucapan pun kulakukan secara pribadi lewat SMS, inbox maupun timeline Facebook dan Twitter. Tapi kalau seumpama aku tak punya kawan beragama Kristen, lha ngapain juga mengucapkan ‘selamat’ di media sosial hanya untuk cari sensasi?

Orang-orang yang pro terhadap ucapan ‘Selamat Natal’ pun semestinya mau memaklumi saudara-saudaranya yang kontra. Harus mau memaklumi keterbatasan pergaulan dan sikap paranoid mereka terhadap perbedaan. Memang butuh waktu dan pengalaman untuk mengobati itu. Begitu pula orang-orang yang kontra mustinya lihat-lihat siapa yang menganjurkan ucapan ‘Selamat Natal’; presidenkah, tokoh perdamaian kah, dai internasional kah, atau hanya seleb Fesbuk.

Jangan suka gebyah uyah.

Lalu bagaimana dengan kupluk Sinterklas? Lha memang siapa itu Sinterklas? Bagaimana kupluk merah putih itu populer? Aku pribadi sebenarnya enggan ikut latah memakai topi itu, walaupun juga tidak melarang. Topi Sinterklas hanyalah produk kapitalis yang tidak ada sangkut pautnya dengan ajaran Trinitas orang Kristen.

Lha tapi ‘kan topi semacam itu identik dengan peraayaan Natal? Lha emang kenapa, Kisanak? Bahkan bentuk kubah masjid adalah lambang tempat bersemayamnya tuhan bagi orang-orang Zoroaster, kemudian diadopsi orang-orang Islam ketika masuk Persia. Sarung yang khas dipakai orang-orang Hindu bahkan jadi ‘busana muslim’, khususnya santri. So, kalau aku mau pakai topi Sinterklas buat shalat pun tak apa-apa kok.

Namun akhirnya aku tetap mempertimbangkan aspek kepatutan. Ya seperti kutulis di atas; untuk menjaga muru-ah dan haibah risalah Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam.

Perusahaan-perusahaan dan pertokoan yang konon mewajibkan pegawainya mengenakan atribut Natal pun keterlaluan. Semestinya yang marah bukan umat Islam, tapi justru umat Kristen. Kenapa? Karena simbol agama mereka dikapitalisasikan. Itu pun kalau memang benda-benda itu diakui sebagai simbol agama mereka sih.

Nah, bagaimana dengan kiai yang ceramah di gereja? Aku tidak sependapat dengan al-Mukarrom al-Habib Syaikh bin ‘Abdul Qadir as-Segaf yang menyatakan bahwa hanya kiai gendeng (edan, gila, tak waras) yang mau ceramah di gereja. Aku juga tidak sepakat dengan kiai yang dengan bebasnya ceramah di gereja tanpa mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat di daerahnya.

Lagi-lagi, ini masalah kontekstual. Bagaimana kondisi wilayah itu, apakah sedang ada konflik antaragama atau tidak. Lalu apa kebutuhan masyarakat beragama di wilayah tersebut, dan dalam momen apa harus berkumpul antar pemeluk agama atau tidak sama sekali. Salah seorang dai Sunni internasional, al-Habib ‘Ali bin Abdurrahman Al-Jufri, tak jarang berceramah dan berdiskusi di gereja.

Nah, untuk masalah kontekstual semacam ini, pendapatku, silakan kiai ceramah di gereja asalkan jangan pas momen Natal. Karena hal itu lebih potensial menimbulkan fitnah. Biarkan umat Kristen khusyuk dengan perayaannya di kala Natal. Namun silakan kalau mau masuk gereja tiap Minggu untuk berceramah tentang nilai humanis Islam atau diskusi membahas kerukunan.

Intinya, sebagai penyikap tiap fenomena dan pelaku setiap tindakan, aku mewajibkan diriku untuk melek konteks ruang dan waktu. Selain itu, aku menyimpulkan bahwa pemahaman tentang teori-teori sangatlah berbahaya tanpa keluasan pergaulan dan pengalaman. Begitu juga sebaliknya. Keluasan pergaulan bisa merusak tanpa adanya landasan keilmuan yang memadai. Harus seimbang.

Di momen Bulan Mulud ini, mending aku (sok) sibuk mengangkat semua yang berhubungan dengan pribadi Rasulullah, jejak langkah para penerus, hingga gerakan para pengemban amanah di akhir zaman melalui Santrijagad. Daripada memperdebatkan tema-tema perdebatan annual (rutin tahunan) semacam itu. Termasuk nanti bakal ada lagi ribut-ribut Tahun Baru, lalu perayaan Maulid Nabi.

Heleh heleh heleeeeh.

Oiya, sebentar lagi tahun baru. Orang-orang ramai merancang resolusi. Awalnya akupun bersemangat; tahun 2015 harus begini harus begitu, target ini target itu. Semisal; khatam setoran hapalan sebelum Ramadhan, menuntaskan kuliah S1 di semester XI, merampungkan dua naskah buku di pertengahan tahun, hingga cari calon untuk kelak dipinang, uhuk!

Kemudian kupikir-pikir lagi. Lha wong resolusi apa yang bakal dikerjakan ba’da shalat fardhu saja masih keteteran, bangun pagi sebelum subuh besok pagi saja masih anteb abot kangelan, kok muluk-muluk aku bikin resolusi tahun depan.

Haiiish prek!

~
Krapyak, 26/12/2014

No comments:

Powered by Blogger.