Sohib Story #2 ~ Identitas

Sohib Story #2 ~ Emil
Cowok keren yang bergaya di sampingku itu Mas Emil. Bukan email, bumil, ngemil, apalagi upil. Tapi Emil, lengkapnya Emil Yakun, tokoh utama dalam postingan edisi nostalgia kali ini. Hahaha. Orangnya suka ketawa dan gampang banget dibikin ketawa. Lha ini foto tahun 2009 waktu haul Syaikh Abu Bakar bin Salim di Cidodol, Jakarta Selatan.

Dia ini kakak kelasku zaman masih SMA di Slawi – Tegal. Kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia, Depok, mempelajari Kimia Murni. Sejak SMA memang sudah encer otaknya, beda jauh denganku. Ketika masih sekolah di Bintaro, aku sering mampir ke Depok untuk sekedar cari teman begadang sambil ngobrol di sana. Salah satunya ya orang ini.

Kuliahnya full beasiswa. Dan orang ini model mahasiswa serius yang betul-betul memahami apa yang ia pelajari. Bukan sekedar pencari gelar dan ijazah. Keuletannya juga meluber di luar kampus, ia sibuk mengajar privat dan mendapat sangu yang cukup dari kegiatannya itu. Kini dia sudah bekerja dan melanjutkan hidupnya entah dimana. Wah, kalau mengaca pada orang-orang rajin macam Mas Emil ini, aku berasa jadi bekicot di gorong-gorong yang menatap puncak menara Eiffel squint emotikon

Suatu hari aku mampir di kamar kosnya yang berukuran 2,5 x 3 m. Sementara dia belajar, aku rebahan di kasur lantai. Nah, di langit-langit kamarnya tertempel kertas bertuliskan syair berbahasa Arab. Kuamati dan kubaca, ternyata kalimat itu adalah petikan lagu “Shoutud Dlomir” bawaan grup kasidah Al-Muqtashida Langitan dalam album ‘Suara Hati’. Bunyinya begini;

“Wal fata man laysa yansa, anna lil insani robbaa (Dan pemuda yang sesungguhnya adalah ia yang tak melupakan, bahwa bagi manusia ada yang namanya Tuhan).”

Kebetulan aku juga suka betul lagu ini. Hampir semua lagu dalam album ‘Suara Hati’ ini kuhapal, selain karena sering diputar di kampung saat hajatan, tetapi juga sebab musikalitas yang enak dan liriknya yang tak sembarangan;

“…’Umruna fil ardhi rihlah, maa lanaa fiiha ikhtiyaaru (Umur kita di atas bumi ini hanyalah perjalanan, tidak ada bagi kita pilihan). Jawlatun min ba’di jawlah, kullunaa fiiha I’tibaaru (Dari satu tahap ke tahap berikutnya, bagi kita ada di dalamnya terdapat pelajaran). Taarotan tanhallu unsaa, taarotan tasytaddu karbaa (Terkadang damai tenteram, terkadang tercekam kesempitan). Wal fataa man laysa yansaa, anna lil insaani robbaa (Dan pemuda yang sesungguhnya adalah ia yang tak melupakan, bahwa bagi manusia ada yang namanya Tuhan).”

Ketika kutanya mengapa ia pasang kalimat itu di langit-langit, ia bilang agar selalu ingat ketika hendak terlelap maupun bangun tidur. Ingat tentang apa? Ya ingat tentang tujuan dan tugasnya, baik sebagai anak, sebagai hamba, sebagai mahasiswa, maupun sebagai santri. Ya, santri.

Sejak remaja dia nyantri di Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan Lebaksiu Tegal. Segala yang ia pelajari semasa mondok selalu dijaganya sebaik mungkin. Mulai dari kitab-kitab kuning tingkat dasar semacam Safinah, Taqrib, dan Wasoya, rangkaian wirid dan zikir ajaran kiai-kiainya, hingga budaya berpeci dan sarungan setiap kali shalat. Dia keukeuh terhadap hal-hal seperti itu. Namun sebagaimana orang-orang pesantren pada umumnya, betapapun ia ketat mempraktekkan teori pada diri sendiri, tetap luwes sikapnya pada orang lain.

Adagium ‘lebih baik sedikit tapi diamalkan daripada banyak tapi ditelantarkan’ betul-betul dilaksanakan olehnya. Ikatan spiritual dengan guru-guru berupa bacaan Fatihah selepas sembahyang pun tak pernah luput. Ia betul-betul menyindir kelakuan santri metropolis yang nyemplung di dunia akademis namun justru kehilangan ruh kesantriannya. Kalau kita amati, tak sedikit santri yang terpukau dengan intelektualitas Timur maupun Barat, lalu tercerabut dari akar adab ala pesantren salaf.

Memangnya ada apa dengan ‘adab’? Oke, kita sepakati untuk menerjemahkan istilah ini dengan ‘etika’ saja. Etika santri pesantren salaf sangatlah kompleks. Meskipun kebanyakan dari mereka tidak menyadarinya, ada pola yang seragam. Melingkupi tata aturan ritual fisik, keluwesan bergaul, ketaatan pada guru, dan terbuka pada wacana sekaligus teguh pada prinsip.

Dalam gaya hidup santri, adab atau etika menjadi poros intelektualitas maupun spiritualitas. Sebetapapun berbedanya pemahaman, tetap harus ada adab. Meskipun jauh lebih pintar dari guru, tetap harus ada adab. Karena musibah berupa kualat pasti akan menerjang siapapun yang qalil adab (meremehkan etika). Begitu keyakinan santri pada umumnya.

Mas Emil ini salah satu contoh santri yang teguh mempertahankan identitas kesantriannya. Jika berbicara perihal agama, tak lepas harus ada kutipan referensi dari kitab ulama salaf. Jika cerita tentang guru-guru dan pribadi-pribadi saleh, selalu dalam nuansa hormat dan rindu. Jika hendak shalat atau menghadiri perhelatan keagamaan, selalu berdandan khas ala santri kampung. Betul-betul menampakkan identitas kesantrian.

Apakah penonjolan identitas itu perlu? Menurutku sih tergantung siapa orangnya. Tak bisa disamaratakan.

Bagi kebanyakan santri, identitas semacam sarung dan peci bukanlah untuk kebanggaan, melainkan justru menjadi penjaga atau benteng bagi kelakuannya. Karena dengan membawa simbol itu, dia ingat bahwa dirinya adalah muslim, santri pula. Karena dia merasa masih lemah jika hanya mengandalkan keimanannya yang masih redup di dalam hati.

Jadi ya tidak masalah orang menunjukkan identitasnya. Karena hal itu berkaitan dengan pemahaman personal. Termasuk kawan-kawan yang berjenggot lebat tanpa dirapikan, atau saudara-saudara bercelana cingkrang. Silakan saja. Yang jadi masalah sebenarnya bukanlah tentang keniscayaan perbedaan identitas, melainkan penyikapan terhadap perbedaan identitas. Apakah bijaksana atau kekanak-kanakan, apakah mengajak atau memaksakan.

Kalau aku mengejek saudara-saudara yang kemana-mana mengenakan gamis cingkrang, sedangkan saat itu aku memakai t-shirt dan celana jins atau jas parlente dan pantalon, lha apa bedanya? Kalau dia dianggap Arabisasi, berarti aku Westernisasi. Apakah masih ada anak muda yang di hari-hari biasa memakai blangkon dan beskap? Atau sekedar peci yang konon jadi aksesoris nasional? Paling-paling kau bakal dipanggil ‘Pak Camat’. Dengan begini, kita sering melemparkan tuduhan yang sebenarnya pantas juga kita tuduhkan pada diri sendiri.

Identitas-identitas terbentuk dari budaya yang kemudian kita manifestasikan dalam nilai-nilai filosofis. Lalu kita yakini kebaikannya dan kita sematkan dalam diri kita. Identitas kita sebagai manusia biologis jelas sudah dari sononya, namun identitas kita sebagai manusia berkemanusiaan jelas terpengaruh dari lingkungan dan sedalam apa kita menghayati kemanusiaan.

Lalu aku bertanya, jika semua identitas itu dipengaruhi lingkungan, adakah identitas non-biologis yang seragam bagi seluruh manusia apapun identitas sosialnya? Sesama Jawa? Ada juga kok yang Sunda. Sesama pria? Ada juga kok yang wanita. Sesama Sunni? Ada juga kok yang Syi’i. Sesama Islam? Ada juga kok yang Kristen. Sesama beragama? Ada juga kok yang ateis. Ternyata pengerucutannya adalah ketika tiba pada kenyataan bahwa kita sebenarnya sama-sama manusia.

Silakan menjaga diri dengan identitas masing-masing, tanpa harus mengobrak-abrik identitas orang lain. Bersikap dewasa terhadap perbedaan maupun persamaan, tanpa sikap egois kekanak-kanakan. Dan ketika kita temukan sikap yang tak lagi mencerminkan ketidakmanusiawian, berarti pelakunya tak pantas lagi menyandang identitas sebagai manusia.

~
Krapyak, 4 Januari 2015

No comments:

Powered by Blogger.