Sohib Story #3 ~ Mertua

Sohib Story #3 ~ Budi
Sosok yang berdiri di sampingku ini bukan Patung Gupolo yang biasa ditemui di gerbang candi lho ya. Namanya Budi, kalian yang pernah sekolah SD pasti familiar dengan nama ini. Ya, dia temannya Inu, Ani, Badu, Yustito, dan tokoh legendaris lain di Buku Bahasa Indonesia. Hehehe

Sekedar bocoran, Budi ini masih jomblo, food combiner, santri kalong, humanis relijius, jaket kuning, filsuf rocker yang sedang nyemplung dalam eksotisme perbatikan, asli Tegal dan ngantor di Pekalongan.
[Bud, satu porsi lotek buat honor promo!]

Mungkin betul apa yang dikatakan Budi beberapa waktu lalu bahwa kriteria orang tua terhadap calon menantu dibentuk oleh atmosfer zamannya. Pada umumnya, tren calon menantu favorit bagi orang-orang tua yang tumbuh di zaman kemerdekaan mungkin adalah anak muda yang kuat dan militan. Saat itu predikat sarjana sama sekali tak menjadi perhitungan, bahkan sama sekali tak populer.

Namun bagi orang tua yang dibesarkan di era orde baru dengan berbagai kenyamanan sosial-ekonomi, bakal mengidolakan calon menantu yang mapan secara finansial. Wadah pendidikan berupa sekolahan telah sukses melambungkan pemuda-pemudi yang bergelar sarjana ke posisi menantu idaman. Pegawai negeri juga jadi favorit pada masa itu, bahkan mungkin hingga hari ini.

Lalu bagaimana dengan orang-orang tua yang menangi era reformasi? Bagaimana tren calon menantu favorit bagi mereka? Bisa jadi sangat berbeda dengan orang-orang tua sebelumnya. Kreativitas dan progresivitas akan menjadi tolak ukur baru bagi mereka dalam menyeleksi calon menantu. Sarjana atau bukan tak lagi penting.

Perkara ini menjadi penting untuk dibahas bagi pemuda-pemudi yang saat ini masih jomblo dan sedang mengatur strategi invasi perburuan jodoh. Karena penaklukan calon pasangan hidup masih belum tuntas tanpa penaklukan calon mertua. Hahaha.

Setelah menelaah berbagai macam tren ini, Budi menyimpulkan bahwa ada dua jenis ukuran bagi orang tua dalam menyeleksi menantu.

Pertama, ukuran ‘mutlak’; berupa sikap, kemandirian dan tanggung jawab. Artinya, saringan awal bagi calon menantu adalah sikap atau attitude sebagai calon anak. Serta kenyataan bahwa dia sanggup mandiri untuk berpenghidupan, apapun bentuk aktivitasnya. Selain itu, keberanian untuk segera menyerbu langsung pihak orang tua adalah bentuk keseriusan dan tanggung jawab. Ketiga hal ini menjadi variabel primer yang selalu berlaku dimanapun dan kapanpun, universal.

Kedua, ukuran ‘relatif’, berupa jenis pekerjaan, besar penghasilan, tampang, jenjang pendidikan, sarjana atau bukan, santri atau bukan, maupun keturunan. Semua ini menjadi variabel-variabel sekunder yang sangat subyektif dan dipengaruhi atmosfer hidup si orang tua. Sebagaimana sudah disinggung di atas.

Nah, menurut Budi, sebaiknya para jomblo masa kini tidak usah minder dan memusingkan variabel-variabel sekunder ini. Kau cukup mempersiapkan sebaik mungkin tolak ukur universal berupa kemandirian dan tanggung jawab. Bukan berarti kau harus kaya raya dan berpenghasilan besar, bukan. Setidaknya ada kasab yang bisa kau kerjakan, boleh tetap atau serabutan, boleh jadi pegawai atau wirausaha.

Tetapi tidak semua orang yang sudah mandiri bisa bertanggung jawab. Karena hal ini tidak sekedar berkaitan dengan urusan kelamin dan isi perut. Tapi juga tentang ketenteraman batin dan kebahagiaan hidup. Maka rasa tanggung jawab kemudian menjadi syarat penting bagi kesiapan seseorang.

Kalau kau merasa sudah siap dengan kedua hal itu, ya sudah mandiri sekuatmu, ya sudah bersedia tanggung jawab semampumu, maka segeralah sikat! Biar tak galau terus menerus. Kalau secara riil memang belum siap, ya jangan buru-buru. Kecuali kalau kau anak bangsawan yang selalu disuapi seumur hidup.

Nah para jomblo, jangan galau! Persiapkan saja tolak ukur primer itu sebaik mungkin. Persis yang diucapkan Budi;

“Kalau sudah mantap dengan sikap gentle, karakter mandiri dan tanggung jawab, maka sejelek apapun tampangku, sekacau bagaimanapun latar pendidikanku, ah orang tua mana sih yang bakal sanggup menolak lamaranku?”

Tapi Bud, masalahnya, ada nggak anak gadis yang mau sama kamu? :p

~
Malam Minggu Kedua, Januari 2015

No comments:

Powered by Blogger.