Surat

08:36
Ibu Guru Bahasa Indonesia semasa awal SMA sukses bikin kemesraan kecil di pawon keluargaku. Suatu hari, beliau menugasi kami untuk membawa amplop bertulis alamat rumah kami masing-masing saat pelajaran Bahasa Indonesia. Kebetulan memang materinya tentang jenis-jenis surat. Lantas beliau menyuruh kami menulis naskah surat di selembar kertas kosong.

“Tulislah surat yang berisi pesan terakhir untuk ibumu. Seakan-akan kamu tidak akan bertemu dengannya lagi,” perintah Bu Guru. Kami pun menurut, semua mulai menulis. Kulihat ekspresi teman-teman beragam rupa. Ada yang nampak senyum-senyum, ada pula yang serius mengernyitkan dahi.

Aku bingung mau nulis apa. “Ingat, seakan-akan kamu tidak akan pernah ketemu ibumu lagi,” kata Bu Guru mengulangi instruksinya. Kebetulan saat itu aku nge-kos dekat sekolah, dua puluh lima kilometer jauhnya dari rumah dan pulang tiap dua minggu sekali. Ah! Kalau memang esok aku tak lagi bisa berjumpa denganmu, Ibu, tentu saat ini akan kunyatakan betapa aku menyayangimu. Maka itulah yang aku tulis. Mulai dari pertanyaan tentang kabar, penyampaian kondisi di sini, penghaturan rasa terima kasih dan doa-doa untuknya.

Haru sekali rasanya. Teman-teman bahkan nampak ada yang sudah mulai bermimik sedih terkenang sang ibu. “Yak, selesai!” seru Bu Guru. Tak terasa telah kutulis tiga halaman penuh, meskipun itu belum cukup menuangkan segala yang ingin kusampaikan saat itu. “Sekarang, masukkan ke dalam amplop. Lalu kumpulkan ke depan. Biar nanti Ibu nilai.”

Surat ditumpuk di laci guru. Saat itu aku sangsi, apakah surat-surat itu betul-betul akan dinilai atau tidak. Ada ratusan siswa yang beliau ajar, mana bakal sempat. Bu Guru mulai menerangkan teori tentang berbagai jenis surat serta tata cara penulisan yang baik dan benar. Begitu seterusnya hingga jam pelajaran berakhir.

Sabtu sore aku mudik. Bertemu keluarga dan kawan-kawan di kampung halaman. Menikmati udara sejuk pegunungan dan melepas penat dari aktivitas sekolah yang bikin penat, memang dari dulu aku tak bisa betah di gedung sekolah. Pada saat makan siang, kami sekeluarga – bapak, ibu, aku dan adik- kumpul di ruang makan. Begitu duduk di kursi, aku kaget ada secarik kertas tergantung dengan paku di tembok ruang makan. Setelah kuamati betul-betul, ternyata itu surat yang kubuat saat pelajaran Bahasa Indonesia beberapa dua pekan lalu.

“Lha, itu apa?” heranku sambil melotot ke arah kertas.

“Ya suratmu,” jawab Bapak datar, “Jarang-jarang kamu nyurati, ya Bapak gantung saja di sini.”

"....." aku membisu.

"Tulisanmu kok jelek," goda Bapak.

Ibu senyum-senyum, “Nih makan yang banyak, biar gemuk,” katanya sambil menyentong nasi buatku. Ah, aku tersipu malu. Betul-betul malu.

Ternyata surat-surat itu tak hanya dinilai, tapi juga dikirim! Berarti Bu Guru menempeli amplop-amplop itu dengan perangko, lalu mengantarnya ke kantor pos. Wah telaten sekali!

Kawan, bila kau guru, cara semacam ini bisa kau tiru. Metode ini betul-betul mampu merangsang tak hanya sisi kognitif siswa, tapi juga sisi emosionalnya. Belum lagi efeknya yang mampu menciptakan letupan-letupan kebahagiaan kecil di tengah keluarga. Kalau kau guru Bahasa Inggris, ajari siswamu membuat surat cinta dengan Bahasa Inggris untuk orang tua. Kalau kau guru agama, tuntun mereka membuat surat nasihat tentang makna shalat, misalnya.

Sudah bertahun-tahun sejak saat itu aku tak pernah kirim surat lagi ke rumah. Maklum, sudah ada telepon seluler yang bisa SMS tanpa menunggu berhari-hari untuk menyampaikan pesan. Tapi sepertinya pesan singkat melalui SMS sama sekali tak bisa mewakili rasa. Meskipun sama-sama tulisan, entah mengapa surat di atas kertas lebih mampu merekam perasaan penulisnya.

Korespondensi melalui surat kertas menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Mungkin ini yang bikin betah orang-orang terdahulu berkorespondensi dengan kawan-kawannya nun jauh di sana dengan surat. Ada masa penantian yang membuat dada berdegup kencang, ada rasa penasaran yang membuatnya penuh perhatian. Sebab itu pula surat kertas akan selalu disimpan dan dijaga sebagai kenangan. Apalagi bila surat itu dari kekasihmu.

Kau akan betul-betul mempertimbangkan setiap kata yang kau tulis. Kau akan meluangkan energi untuk melipat kertas dan mengantarkannya ke kantor pos. Kekasihmu di seberang sana juga akan berbinar ketika melihat siluet Pak Pos datang. Apalagi saat menerima amplop surat, membuka lipatannya, lalu membacanya. Bisa pingsan bahagia dia!
Di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat, aku termasuk orang yang belum cakap memanfaatkannya. Telepon ke rumah setahun paling cuma lima kali, SMS pun paling banter seminggu sekali. Bukan karena tidak kangen, tapi justru karena sangat menikmati rasa rindu. Ah, dalam rangka mengqodho semua itu, hari ini kukirimkan surat tradisional untuk ibu di rumah via pos, dilampiri buku sebagai kifarat karena jarang sekali kirim kabar. Semoga beliau bungah.






Suratku buat Ibu
Oiya, kau mau berkorespondensi denganku? Kirim saja ke: Wisma Abu Dhabie (sebelah timur Panggung Kandang Menjangan), Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, 55002. Siapa tahu suatu hari bisa dikompilasi jadi semacam buku surat menyurat kayak Raden Ajeng Kartini, nanti kita kasi judul; Dari Surat Hingga Akad, cihuy! Dan kalau mau ngirim ya pakai pos aja, jangan pakai burung merpati apalagi burung emprit, bisa encok dia sampai ke Jogja. Hahaha

~
Jogja, 8 Februari 2015

No comments:

Powered by Blogger.