Cincin Akik Sang Habib [cerpen]

02:38
Cincin Akik Sang Habib, by Zia
Pagi itu begitu cerah sebenarnya, butir-butir embun masih belum kering, kicau burung-burung baru mulai terdengar, tapi suasana hati Fikri teramat rusuh. Sejak bangun tidur, ia mondar-mandir ke seluruh penjuru rumahnya yang luas itu. Polahnya gelisah, mulutnya tak henti-henti menggerutu.

Bagaimana tidak, cincin kesayangannya ketlingsut entah di mana. Tak mudah mencari benda kecil itu di tengah rumah mewah dengan sebelas kamar, dua aula besar, dan tiga kamar mandi. Cincin itu bisa terselip di mana saja. Seingat Fikri, sebelum tidur ia taruh cincin dengan batu akik mewah itu di atas meja lampu, tepat di samping ranjang ia rebah. Batunya mirah delima berwarna merah terang, berukuran sebiji kurma, embannya terbuat dari perak berkilau dan berukir sayap rajawali, anggun sekali.

“Droo! Indroo!” seru Fikri memanggil pembantunya. Suara lelaki keturunan Arab itu menggelegar ke seantero ruangan. Kalau dia berteriak di tengah hutan, pastilah burung-burung di atas pohon serentak beterbangan.

Orang yang dipanggil, Indro, tergopoh-gopoh menghampiri tuannya. Celananya diwingkis sampai betis, sebenarnya sedang sibuk menyiram tanaman di taman.

“Ada apa, Bib?”

“Ente liat cincin ane gak?”

“Cincin yang mana, Bib?”

“Yang merah!”

Indro menggeleng. Mencoba memberi tahu majikannya bahwa ia tak tahu.

“Beneran!?”

“Iya Bib.”

“Iya apa??”

“Nggak liat, Bib.”

“Sumpah?!”

“Sumpah, Bib”

“Sekarang cari sampai ketemu!” hentak pria itu sambil melotot.

“I, iya Bib.”

Pemuda ceking itu mulai berkeliling rumah, dari sofa ke sofa, dari kolong ke kolong, dari toilet ke toilet, dari lemari ke lemari, cincin itu tak jua ia temukan. Belum pernah majikannya segawat itu. Sebagai sosok pemuka masyarakat, ia lebih sering menjaga diri dari sikap-sikap kasar semacam itu. Usianya memang masih muda, belum genap empat puluh, namun posisinya sebagai pemimpin sebuah majlis taklim sudah menempatkannya sebagai tokoh yang dihormati di tengah masyarakat. Tiap bulan dia menggelar majlis taklim di masjid kampung untuk warga sekitar, di kalangan ibu-ibu dia sangat terkenal.

Kalau sampai sedemikian marahnya, tentu cincin itu memang istimewa.

Seperempat jam tanpa hasil. Indro menghadap sang majikan yang sedang sarapan bersama istrinya. Mereka pasangan muda yang sudah dua tahun menikah, baru dikaruniai satu anak yang meninggal enam bulan setelah kelahirannya. Sambil menundukkan kepala, Indro melapor,

“Maaf, Bib..”

“Ketemu?!”

Indro menggeleng, tak berani ia berkata tidak.

“Pokoknya cari sampe ketemu. Ini hari ane mau ke Bekasi dua hari. Ente tau kenapa itu cincin musti ketemu?!”

Indro menggeleng lagi.

“Itu cincin dikasi Haji Fuad ya Bah?” sela sang istri.

“Iya Mi,” sahut Fikri, lalu ia bertanya pada Indro, “Ente tau siapa Haji Fuad?”

Ya jelas Indro menggeleng lagi.

“Dia sohib ane, pengusaha material dari Bekasi. Entar malem mau ada maulid di tempatnya dia. Ane yang disuruh ngisi majlis. Nggak enak kalo tu cincin nggak ane pake. Paham??”

Kali ini Indro mengangguk.

“Ane mau siap-siap, sejam lagi berangkat. Pokoknya itu cincin musti ketemu!”

Wah, satu jam. Indro beringsut mundur, ia keliling lagi ke kolong-kolong, kali ini sampai ke luar rumah. Di taman, di pekarangan, di halaman, hingga ke balkon dan loteng di lantai dua. Tetap saja tak ketemu. Fikri dan istrinya sudah selesai berkemas dan mengeluarkan BMW-nya dari garasi.

“Ketemu?!”

Pembantunya menggeleng. Fikri berdecak kecewa.

“Gak berguna!”

Ia tutup kaca mobil dengan ekspresi muak.

 “Jaga rumah ya, Mas,” titah istri Fikri sambil membuka pintu mobil, “Cari sampe ketemu, biar Abah nggak marah-marah.”

“Iya, Mi.. Nanti saya cari lagi.”

~

Ratusan orang memenuhi gang perumahan itu, di salah satu residen kelas menengah kota Bekasi. Mereka mengelompok lima-lima mengelilingi nampan kebuli. Nampaknya pengajian sudah usai, grup marawis mendendangkan lagu-lagu kasidah berirama padang pasir, menghibur jamaah yang sedang asyik menyantap sajian nasi kambing.

Sementara di dalam rumah, di ruang tamunya, berkumpul para pemuka, tokoh masyarakat dan pejabat setempat. Jamuan makan khusus sudah tersedia buat mereka di sana. Di antara wajah-wajah itu, ada Fikri yang sedang bercakap-cakap dengan si empunya rumah, Haji Fuad.

“Tambah lancar ya ente punya bisnis, Ji?”

“Alhamdulillah Bib. Berkat maulid,” sang saudagar menjawab dengan rona bungah.

“Kheir, kheir..” timpal Fikri, “Yang penting ente niat ikhlas, demi bikin hati Sayyiduna Muhammad gembira,” ucapnya dengan penekanan. Orang seruangan serempak membisikkan selawat.

“Apalagi kalo ente seneng sedekah,” lanjut Fikri, “Ini majlis juga bisa ente itung jadi sedekah. Kasi makan buat para tamu, ente niati sedekah. Insyaallah rejeki makin lancar.”

Haji Fuad manggut-manggut sambil mengupas jeruk.

“Terutama kepada orang-orang fakir di lingkungan ente. Wah, Rasulullah tentu bahagia bukan main sama ente. Tidak ada manusia di dunia ini yang lebih welas asih kepada fakir miskin selain Sayyiduna Muhammad!” ujarnya, lagi-lagi dengan penekanan pada nama nabi, yang membuat orang-orang mendesiskan selawat.

“Belum lagi kalo ente mau urus anak yatim,” tambah Fikri, “Itu deketnya sama Rasulullah udah kayak dua jari ini,” katanya sambil mengacungkan dua jari kanan dengan rapat, telunjuk dan tengah, dekat tanpa sekat.

“Insyaallah Bib, doakan biar semua lancar dan berkah,” sahut Haji Fuad sambil menyodorkan sesisir pisang raja. Suasana di luar masih semarak dengan dendang marawis.

“Bib, akik ente dimana?” tanya Haji Fuad menanyakan kelingking Fikri yang telanjang.

“Wah, afwan Ji. Cincin yang ente kasi lagi ngilang kemana,” jawab Fikri berekspresi sesal. Ia sudah menduga Haji Fuad akan menanyakan hal itu.

“Ilang, Bib?!” seru Haji Fuad.

“Enggaak, masih ada di rumah, cuma lagi gak ketemu aja, Ji. Kayaknya ane lupa narohnya aja Ji,” terang Fikri. Ia kemudian menjelaskan kronologi kejadian hilangnya cincin itu kepada si pemberi. Serta mengisahkan ketidakmungkinan adanya maling malam itu, karena semua pintu dan jendela masih terkunci rapat ketika dia bangun di pagi hari.

“Jadi, di rumah cuma ada ente, istri, sama pembantu itu, Bib?”

“Iya, Ji.”

“Ente nggak curiga?”

“Curiga gimana maksud ente Ji?”

Haji Fuad mendekatkan badan ke arah Fikri, suaranya pun melirih.

“Bukannya ane su-udzon nih, Bib. Tapi itu cincin mahal, dan kalo dijual bisa buat ngehajiin lima orang. Apa ente nggak curiga, Bib?”

“Maksud ente…,” kening Fikri mulai berkerut, menebak-nebak.

“Yaa kalo menurut ane nih Bib, mending orang kayak gitu dipulangin aja dah,” usul Haji Fuad, “Dulu ane pernah kecolongan, Bib.”

“Kecolongan gimana, Ji?”

“Pembantu ane yang dari Jawa itu, pernah ngambil duit. Gak banyak sih, cuma gocap. Ya ane maapin dah. Eh, tambah hari tambah ngelunjak dia. Terakhir dia bawa kabur motor sama leptop anak ane. Sampe sekarang kagak ketemu, Bib,” tutur Haji Fuad meyakinkan.

“Wah, musibah ya, Ji.”

“Iya, Bib.”

“Ya udah, entar ane periksa lagi,” tutup Fikri sambil melayani jabat tangan dari para tokoh yang hendak pamit pulang.

Di kalangan pendakwah, dia memang masih tergolong muda. Apalagi dibanding kalangan habib yang sudah lebih dahulu terjun ke podium-podium ibukota. Meski begitu, di kultur masyarakat yang sangat menghormati trah, seorang pemuda dengan garis darah dan riwayat keilmuan seperti Fikri tak sulit mendapatkan tempat.

Untuk dua hari ini, waktunya pun penuh dengan berbagai undangan majlis, ziarah ke beberapa pemakaman para wali, dan mengunjungi sesepuh-sesepuh alawiyyin. Hari ketiga, dia pulang.

~

“Siang ini jadi ke enjid Ali ‘kan, Bah?” ucap istri Fikri sambil menata beberapa kembang di pojok ruang tamu, ia memastikan rencana silaturahim Fikri ke kakek istrinya, seorang habib sepuh yang sangat disegani di pinggiran Jogja.

“Wah, iya, untung Umi ingetin!”

“Indro udah tau kita mau pergi nggak, Bah?”

“Belum, ‘ntar Abah bilangin,” sahut Fikri, bangkit dari sofanya, mencari Indro.

Di halaman, tak ada. Di dapur, tak ada juga. Di taman pun sepi. “Ah, pasti ngorok di kamar,” pikir Fikri. Melangkahlah ia ke kamar Indro. Pintunya sedikit terbuka. Samar-samar terdengar suara orang mengobrol. Fikri tak langsung masuk, ia mengintip untuk melihat siapa yang berbincang di dalam.

Tampak Indro hanya sendiri, duduk di kursi membelakangi pintu menghadap lemari baju. Tangan kanannya memegang benda hitam tipis yang ditempelkan ke telinga. Diamati betul-betul, Fikri tercengang, ternyata yang dipegangnya sebuah i-Phone mahal! Dua tahun Indro bekerja di rumahnya, tak sekalipun Fikri melihat Indro memegang ponsel selain nokia butut berkaret gelang. Maka terang saja Fikri kaget.

“Ehem!” Fikri berdehem keras-keras sambil membuka pintu agak lebar. Mendengar itu, Fikri menoleh, terkejut dia bukan main!

“A.. ada apa Bib?” katanya tergagap.

“Lagi apa ente?” tanya Fikri, menggerakkan dagunya dan berwajah datar.

“Ne.. nelpon Bib..”

“Hmm..” gumam Fikri, “Bagus ya hape ente..”

“I.. iya Bib, lumayan..”

“Mahal pasti ya?”

“Katanya iya Bib..”

“Hasil ngejual cincin ane ya?”

Lidah Indro tercekat. Ia menelan ludah, napasnya tertahan. Ia mulai menyadari bahwa majikannya sedang melayangkan tuduhan.

“Sumpah, Bib! Saya tidak nyuri cincin Njenengan..”

“Lhah, siapa yang bilang ente nyolong?”

Lagi-lagi Indro kepepet. Ekspresi Fikri yang datar sambil menyandarkan badan di kusen pintu nampak lebih mengerikan dibanding saat dia melotot marah-marah dan menunjuk-nunjuk garang. Sikap seperti itu jelas berhasil mempermainkan kondisi psikologis Indro.

“Ane gak nuduh ente nyolong,” lanjut Fikri, “Tapi ente sendiri yang bilang tadi. Itu artinya ente ngaku.”

“Beneran Bib! Saya tidak ngambil cincin itu,” sergah Indro, “Hape ini..”

“Sudah sudah sudah, sekarang ente gak usah panik,” potong Fikri. Ia tak mau mendengar alasan-alasan pembelaan diri yang dibuat-buat. Indro masih tampak tegang.

“Ente kemas-kemas ente punya barang. Pulang sebelum masuk dzuhur. Ane mau pergi abis dzuhur,” putus Fikri, masih dengan nada datar.

“Tapi Bib..,” Indro betul-betul tak percaya apa yang didengarnya.

“Nggak pake ‘tapi’. Nanti ente tetep ane kasi pesangon tiga bulan gaji.”

“Tolong Bib,”

“Titik.”

Fikri berbalik, lalu menutup pintu dengan bantingan cukup keras. Brak!

~

Tak seperti tadi saat ia ingin menjelaskan semuanya, kini Indro hanya terdiam. Duduk bertekuk lutut di lantai, dengan menggendong tas ransel besar dan dua buntal sarung berisi sandangan. Di depannya, sepasang majikan duduk berjejer di atas sofa.

“Ini pesangon buat ente,” kata Fikri menyodorkan amplop ke istrinya untuk diserahkan kepada Indro. Nampak betul keengganan Fikri hanya untuk sekedar menyerahkan pesangon langsung.

Sejak awal Indro bekerja, sebenarnya Fikri memang tak pernah puas. Ia hanya kasihan dengan anak muda itu. Baru setengah tahun ia menempati rumah warisan mertuanya, lalu datang bocah remaja tujuh belas tahun minta kerja. Asalnya dari kampung sebelah dan sudah tidak punya bapak, katanya. Hanya ibu di rumah dan anak itu harus menghidupi ibunya yang sudah tua. Sekolah tak selesai, tak punya keahlian apa-apa.

Melihat kerjanya yang tak pernah beres, sering Fikri marah-marah. Semua itu masih bisa ia tahan, namun untuk urusan curi-mencuri seperti ini, ia takkan mentolerir. Kalau dikasih hati, bisa tambah merogoh empedu, persis kata Haji Fuad tempo hari.

Indro hanya bisa memandangi amplop di tangannya itu. Sepertinya ada banyak kalimat ingin keluar dari mulutnya, tapi tertahan. Entah permohonan maaf atau permintaan belas kasih. Fikri pun tak minta penjelaan apa-apa, ia tak mau dikalahkan rasa iba sebagaimana saat menerima pemuda itu dahulu.

“Mulai sekarang ente boleh tinggalkan ini rumah. Sudah ane panggilin ojek depan gerbang, ongkosnya sudah Umi kasih,” ucap Fikri masih berbaik hati.

“Terima kasih, Bib.. Umi..,” sahut Indro, “Permisi, saya pamit,” katanya sambil undur diri. Tak berani dia untuk sekedar salaman. Satu ransel di punggung dan dua buntalan dia cangking kanan kiri. Langkah pemuda itu lesu, lambat, dan ragu.

“Apa nggak apa-apa Bah?” tanya istri dengan iba setelah punggung Indro nampak mengecil dari kejauhan.

“Ah, nggak apa-apa Mi,” jawab Fikri, “Dia masih muda.”

“Yaa, semoga bisa dapet kerjaan lain dia ya, Bah,”

“Iya. Yang halal,” sahutnya sinis, “Udah siap berangkat? Ayok!”

“Sebentar, Umi ambil rantang dulu,” kata sang istri yang segera meluncur ke dapur, mengambil rantang berisi perkedel kentang telur, makanan kesukaan enjid Ali, kakeknya.

~

Empat puluh menit jarak tempuh dari rumah menuju kediaman enjid Ali. Halaman rumahnya nampak asri dengan beraneka warna kembang. Bangunan rumah itu masih berbahan kayu jati dan berarsitektur khas Jawa.

Baru saja moncong sedan memasuki pelataran, Pak Rodi, khodim (asisten pribadi) enjid Ali berlari kecil mendekati mobil itu.

Tok tok tok! Pak Rodi mengetuk kaca mobil. Fikri membukanya.

“Assalamu ‘alaykum, Bib!” sapa Pak Rodi.

“Wa’alaykumussalam, Pak Rodi. Ada apa pake lari-lari?” tanya Fikri heran.

“Nganu Bib, eee..” Pak Rodi agak ragu, “Nganu.. tadi Wan Ali pesen sama saya..”

“Pesen? Pesen apa?”

“Wan Ali bilang gini: ‘Kalo Fikri sampe halaman, jangan suruh masuk dulu. Suruh nemuin Mbah Darso dulu, baru boleh ke sini’, gitu Bib,” kata Pak Rodi menirukan titah guru sekaligus majikannya.

“Hah?” kaget Fikri, “Maksudnya? Lha ane ‘kan baru nyampe nih.”

“Yaa ane cuma nyampein kata Wan Ali, Bib,”

“Udah Bah, turutin aja apa kata Enjid,” sela istrinya di sebelah, “Yuk ke tempat Mbar Dar dulu.”

“Nganu Bib, katanya ente sendiri aja yang kesana. Kalo Wan Ipeh masuk aja nggak apa-apa,” susul Pak Rodi memperjelas.

Suami istri itu saling tukar pandang, bengong.

“Ya sana Bah, nurut aja. Umi masuk ke dalam dulu,” ucap istrinya, lalu keluar mobil menenteng rantang.

Fikri paham betul reputasi kakek istrinya itu. Selain usianya yang sudah sepuh, kejernihan hatinya pun tak bisa disangkal. Wajahnya teduh dan ucapannya selalu menenteramkan. Dia memang bukan dai kondang yang terkenal dimana-mana, namun banyak tokoh yang sering berkunjung ke sini hanya sekedar untuk meminta nasehat dan doa.

Tapi kalau Ahmad Darsono, alias Mbah Dar, ia tak kenal betul, bahkan cenderung sinis. Orang itu memang terkenal jadi jujugan beberapa habib sepuh, tapi tingkahnya yang aneh menjadi sebab bagi Fikri untuk menjaga jarak. Ada yang bilang, Mbah Dar kadang teriak-teriak sendiri di halaman rumahnya, malah mirip orang tak waras.

~

Tak butuh waktu lama bagi Fikri untuk sampai di rumah Mbah Dar. Mobilnya diparkir di pinggir jalan, karena gang masuk ke tempat Mbah Dar tak muat untuk lewat. Rumahnya reot penuh tambalan kayu-kayu. Nampak di teras rumah yang tak seberapa luas itu Mbah Dar sedang bermain congklak bersama beberapa anak kecil, mungkin cucu-cucunya.

Melihat kedatangan Fikri dari kejauhan, Mbah Dar berdiri sambil berkacak pinggang. Beberapa meter sebelum sampai di teras rumah, Fikri sudah diteriaki,

“Dasar! Ente orang kaya dzolim!” seru Mbah Dar sambl mengacung-acungkan tangan ke arah tamunya itu.

“Hah?!” lagi-lagi Fikri dibuat kaget, langkahnya terhenti, keningnya berkerut. “Apa-apaan lagi ini?” batinnya. Belum tuntas kekagetannya sebab ‘pengusiran’ Enjid Ali, kini dia dibuat bingung lagi sebab polah orang tua ini.

“Sini!” ajak Mbah Dar mengajak duduk Fikri di atas dipan kayu. Sebab kebingungan ini, Fikri seakan lupa pada tata krama bertamu, mulai salam hingga salaman. Tapi Mbah Dar sepertinya memang bukan sosok yang terbiasa dengan formalitas semacam itu. Dar der dor saja dia.

“Dasar dzolim! Ente itu habib, apa nggak malu?!” omel Mbah Dar, Fikri hanya diam mendengarkan. Mencoba mencerna maksud kata-kata orang tua itu.

“Sekarang ente musti minta maap sama Indro!”

Kata-kata Mba Dar kali ini betul-betul bikin kaget. Darimana dia dapat nama itu?

“Indro? Indro yang mana, Mbah?” tanya Fikri heran.

“Ya Indro yang masih idup! Yang satu ‘kan udah mati. Gimana sih ente?!”

Kali ini jantung Fikri serasa mau copot. Selama hidup dia memang cuma kenal dua orang Indro. Satu temannya semasa SMP dahulu dan sudah meninggal sebab kecelakaan belasan tahun lalu, itupun di kampung halamannya di Garut. Satunya lagi nama pemuda yang baru dipecatnya beberapa jam lalu. Lalu ia pun paham arah pembicaraan ini. Semua tentang cincin itu.

“Tapi, Mbah. Cincin ane gimana?” sahut Fikri mulai nyambung.

“Gimana gimana maksud ente!?” sambar Mbah Dar membentak.

“Yaa dia ‘kan udah ngambil cincin ane tanpa ijin,”

“Ndasmu!” bentak Mbah Dar tambah keras. Baru kali ini ada orang berani mengumpati Fikri, berani betul dia. Belum habis kagetnya Fikri, Mbah Dar memberondong,

“Ada orang susah kok disia-sia. Yatim pula. Apa ente kagak malu sama Kanjeng Nabi?! Habib macam apa itu! Pokoknya ente sekarang balik, cincin ente nyelip di bawah baju lemari kamar ente! Ambil, terus minta maap sama bocah itu!”

“Lemari kamar? Sudah ane periksa Mbah, nggak ada!”

“Kalo itu cincin sampe nggak ada, ente boleh balik kemari, terus nih muka boleh ente gampar sepuasnya! Kalo ente masih aja ngeyel, ente yang ane gampar!” kata Mbah Dar sambil mengangkat sandal jepitnya. Edian!

Kontan saja Fikri angkat kaki, jalan cepat menuju mobilnya. Betul gila ini kakek tua, pikirnya. Namun tak mungkin Enjid Ali menyuruhnya ke sini tanpa tujuan. Ia bergegas pulang ke rumah, bukan berharap menemukan cincin yang jelas-jelas sudah hilang, justru untuk membuktikan bahwa cincin itu benar hilang dan ia bisa ngomel sepuasnya di hadapan si kakek tua.

Gerbang rumah masih dikunci karena memang sepi. Fikri masih mengingat-ingat pagi beberapa hari lalu. Semua sudut rumah sudah ia periksa, terutama di dalam kamar. Adapun lemari di kamarnya hanya dia yang punya kuncinya, dan itu juga sudah diperiksanya.

Bergegas ia naik ke lantai dua, kamar pertama dari tangga. Cklek! Pintu dibuka, langsung pandangannya menancap di pintu lemari baju. Kunci lemari sepaket dengan kunci mobil. Lemari di buka, rak paling atas diperiksa, tak ada. Rak kedua, sama saja, di bawah tumpukan baju tak ada apa-apa. Rak ketiga…..

“Tidak mungkin!” benak Fikri, matanya tak berkedip.

Cincin merah itu mengkilap indah di sana. Dari setiap goresan dan kilauannya, Fikri kenal betul itu cincin yang kemarin hilang. Seingatnya, beberapa hari lalu dia sudah periksa rak ini, tapi begitu menemukan cincin itu dia jadi ragu.

“Kayaknya kemaren gak ada deh,” gumamnya sambil menimang-nimang cincin berakik merah terang itu.

Deg! Dia jadi ingat omongan Mbah Dar. Kalau cincin itu ketemu, dia harus minta maaf kepada orang yang dituduhnya telah mencuri. Dengan tergesa-gesa, Fikri segera memeriksa laci dokumen. Ada fotokopi identitas Indro di sana.

“Dusun Mrican, RT 07/08. Ah, ternyata dekat sini!” benak Fikri. Meski beda kampung hanya setengah kilometer dari tempatnya tinggal, Sekaran, dia memang belum pernah sekalipun mengunjungi rumah pembantunya itu. Setengah berlari, Fikri turun menuju mobilnya, sambil membawa beban berupa rasa bersalah.

~

Sepanjang perjalanan, ia terngiang-ngiang ocehannya, kemarahannya, umpatannya, kesinisannya, dan segala tuduhan fitnahnya kepada Indro. Tak habis pikir, hanya sebab urusan duniawi, mengapa ia begitu kalap dan tak mau mendengarkan penjelasan pembantunya itu. Hanya istighfar yang ia desiskan berkali-kali.

Tanya sana, tanya sini, akhirnya Fikri sampai di rumah Indro. Tak jauh beda tampang rumah itu dengan rumah si kakek tua. Reot.

“Assalamu’alaykum!” sapa Fikri agak seru, kepalanya melongok pintu yang tak tertutup sempurna, engselnya rusak.

“Assalaamu’alaykum!” ulang Fikri.

“Walekum salam!” sahut seseorang dari dalam rumah. Fikri kenal betul suara itu, pecah dan cempreng.

Si tuan rumah menyibak tirai kamar yang langsung menghadap pintu masuk. Terbelalak matanya melihat siapa yang datang.

“Habib?”

“Iya Ndro, boleh saya masuk?” pinta Fikri agak grogi.

“Si.. silakan Bib..” pemuda kurus itu langsung membereskan sisa-sisa plastik dan ceplik di atas meja tamu.

Malam tadi meja itu baru digunakan membungkus kacang untuk dijual. Paginya, kacang-kacang bungkusan itu diantar ke kios-kios dan warung-warung oleh ibunya. Siang ini ibunya sedang berkeliling mengambil hasil jualan dan kacang-kacang sisa. Indro seharian hanya gulang-guling di kamar, suasana hatinya masih sumpek selepas pemecatan pagi tadi.

Mereka duduk berhadapan. Untuk beberapa detik, suasana hening. Saling menunggu untuk memulai kalimat. Indro menunggu karena Fikri masih dianggap sebagai majikannya. Sedangkan Fikri menunggu sebab Indrolah tuan rumahnya.

“Tadi..” buka Indro, “Sebelum..” kata Fikri. Kata-kata mereka terucap bersamaan, saling tabrak.

Sejenak saling tak enak.

“Ane mau minta maaf, Ndro..” ucap Fikri langsung ke inti. Indro masih diam menunduk.

“Ane ngaku salah udah nuduh ente yang nggak-nggak.”

Indro mulai berani mengangkat wajahnya.

“Cincin ane udah ketemu di rumah. Ini dia,” kata Fikri sambil menunjukkan kelingking kanannya. Benar saja, di sana sudah bertengger cincin mirah delima mahal dengan begitu gagahnya.

Indro lega bukan main, “Alhamdulillaaaah..”

Kebekuan sudah mencair. Senyum mengembang dari bibir masing-masing. Fikri mulai bertanya-tanya tentang lingkungan Indro, rumahnya, keluarganya, ibunya. Indro pun dengan bersemangat menceritakan semuanya, mulai dari kondisi rumah hingga pekerjaan ibunya. Tak lupa, ia ceritakan juga asal-usul ponsel mahal yang sempat dicurigai Fikri. Ponsel titipan seorang kawan yang minta dijualkan. Sebagai orang tak punya, selisih harga jual sebagai belantik baginya cukup lumayan.

“Salamulekuum..” ada suara perempuan menyapa dari arah pintu, serak dan berat.

“Wa’alaykumussalam..” sahut Fikri menengok ke arah suara.

Nampak wanita tua masuk ruangan, mengenakan jarik batik dan kaos partai, menggendong keranjang bambu. Rambutnya putih dan jalannya agak pincang, seperti ada koreng lebar di atas mata kakinya. Indro menyambut ibunya dengan begitu hormat.

“Lhoh, ada tamu to, Le?” kata si ibu sambil menatap lekat-lekat wajah tamunya itu. Si tamu senyum mengangguk.

“Oalah! Njenengan ‘kan Mas Habib yang di Mesjid Sekaran tho?” seru si ibu, kaget.

“Iya, Bu, betul,” jawab Fikri mengangguk lagi.

“Ya Aloh Ya Robiiii..” seru ibu Indro histeris, “Mimpi apa saya semalem, kok bisa ditamoni Njenengan Biiib,” katanya hampir tak percaya, kedua telapak tangannya menempel di pipinya sendiri.

“Saya ini rutin ngaji di tempat Njenengan, Bib..” jelas si ibu yang mulai duduk tenang.

Tentu saja Fikri tak kenal, melihat pun baru kali ini. Dari sekian ratus orang yang hadir, dia tak punya waktu untuk mengenal satu-satu. Paling hanya beberapa orang pengurus majlis dan ibu-ibu istri pejabat setempat yang dia kenal.

Indro hanya bisa senyam senyum, turut gembira akan kegembiraan ibunya. Selama ini dia tak pernah cerita kepada ibunya, bahwa dia bekerja di rumah sosok yang sering ibunya ceritakan. Dia tak pernah memberi tahu ibunya, bahwa ia sehari-hari hidup dengan orang yang nasehatnya sering disampaikan ulang oleh ibunya itu.

“Anak saya ini, Bib,” ungkap sang ibu, “Katanya baru dipecat oleh majikannya. Padahal dia ndak salah apa-apa. Sekarang dia nganggur ndak punya kerjaan.”

Fikri tercekat. Melirik Indro, yang dilirik hanya menunduk diam.

“Padahal anak saya ini sudah sangat betah kerja di sana. Katanya orangnya baik, gajinya juga gede. Saya seneng anak saya bisa kerja, walaupun ya cuma jadi pembantu. Sejak bapaknya ninggal, saya jualan kacang. Ya begini ini Bib,” kata ibu Indro mulai berkisah. Maklum, ibu tua dengan kehidupan yang begitu berat akan sangat mudah menumpahkan kisahnya kepada siapapun yang mau mendengarkan, apalagi kepada sosok yang selama ini ia hormati dan ikuti petuah-petuahnya.

“Saya ndak paham sama pikiran orang kaya Bib. Kok tega sama anak yatim kayak Indro ini. hatinya itu lho dimana..” katanya, seakan menusuk-nusuk jantung Fikri dengan tombak besi. Pandangan Fikri mulai jatuh ke lantai semen.

“Kata Habib,” lanjut si ibu, “Orang yang mau bantu anak yatim itu besok di akerat bareng Kanjeng Nabi kayak gini, ya Bib ya?” katanya sambil mengacungkan dua jari kanan dengan rapat, telunjuk dan tengah, dekat tanpa sekat.

Indro tercekat mendengar ucapan ibunya. Dan kali ini, Fikri yang tertunduk diam, hatinya seakan dipalu godam menghantam-hantam. Sudut matanya mengembun.

“Ibu..” potong Fikri lirih, tak mau mendengar kata-kata yang tajam bak sembilu dari si ibu lagi, “Biar nanti Indro ikut kerja di rumah Habib aja ya, Bu...”

Wanita tua itu sumringah luar biasa. Matanya berbinar penuh kebahagiaan. Indro dan Fikri hanya bisa saling melempar senyuman. Senyum kerelaan.

~

Krapyak, 17 Maret 2015
*Demi ketenteraman bersama, nama tokoh dan lokasi peristiwa hamba samarkan

No comments:

Powered by Blogger.