Media Sosial Santri yang Menghibur, Informatif, dan Mencerahkan!

21:35
Teringat lima tahunan lalu saat pertama kali saya bergabung di tim media Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Saat itu masih dalam wadah tim redaksi Majalah Al-Munawwir Pos (belakangan diubah menjadi ‘Majalah Al-Munawwir’) dan geliat literasi kami masih disalurkan ke wadah buletin, mading, dan majalah. Website resmi pondok pun masih belum terkelola dengan baik, sangat minim konten, dan acak adul.

Zaman berkembang. Era internet semakin berjaya dengan larisnya media sosial di masyarakat, terutama anak muda. Tak terkecuali santri. Tak pelak, tim media pun berkembang sesuai zamannya. Website mulai tertata, media sosial semakin semarak. Hari ini, mereka sedang bergiat dalam literasi media sosial yang sangat membutuhkan kreativitas, sekaligus kehati-hatian. Untuk itulah, Tim Media Al-Munawwir yang dipandegani Kang Irham, Kang Irfan, dan kawan-kawan lainnya, pada Kamis (5/10/2017) lalu menggelar acara Diskusi Literasi Media Sosial bagi santri, khususnya pegiat (baca: admin) medsos ngehits.

Ada empat pemateri yang didapuk menyampaikan objek diskusi saat itu; Kang Ahmad Khairul Anam sebagai jurnalis, Kang Muhammad Habibi sebagai desainer grafis, Kang Muhammad Khairul Anam sebagai videografer, dan saya sendiri sebagai blogger. Di momen ini, saya menyampaikan materi tentang ‘Tiga Jimat Santri Nge-Medsos’ di hadapan teman-teman admin ngehits se-Krapyak, seperti @alasantri dan @komplek_el. Jujur saja, saya merasa terharu melihat antusiasme tim media menggelar acara semacam ini, sebab terakhir kali saya kumpulkan tim majalah tiga tahunan lalu ketika rapat redaksi sebelum kemudian ambruk sakit beberapa tahun.

Sebelum menyampaikan ‘Tiga Jimat’, saya tekankan kepada teman-teman admin tentang pentingnya niat. Kita tak mau geliat santri di medsos sekedar iseng dan tak bernilai kebaikan apapun. Maka niat dakwah dan intisyar al-rahmah adalah hal yang sangat penting untuk dipatrikan dalam hati. Tentu saya tak perlu mengingatkan teman-teman santri tentang “Innama al-a’malu bi al-niyyat wa innama likulli imri-in maa nawaa..”

Setelah membicarakan niat, saya sampaikan tiga sisi penting yang harus diperhatikan santri dalam bermedsos. Tiga sisi ini berkaitan erat dengan niat dakwah yang sudah ditancapkan, serta penting bagi sampai-tidaknya isi pesan yang disajikan.

PERTAMA, etika atau adab. Beberapa hari sebelumnya, saya melihat ada akun instagram santri yang mengunggah foto dua santriwati sedang menggoda teman santrinya yang sedang shalat. Diimbuhi caption; ‘Warna-warni pesantren untuk melatih kekhusyukan’. Ada pula unggahan foto seorang santri yang memakai sandal slewah hasil ghosob. Bahkan ada beberapa akun di facebook yang mengunggah video gurunya yang sedang majdzub.

Saya sampaikan bahwa tidak semua hal di lingkungan pesantren bisa kita unggah di media sosial dengan pemirsa yang begitu beragam. Kita harus paham betul mana ruang pribadi dan mana etalase. Medsos adalah etalase, ruang untuk mempertunjukkan hal-hal yang memang patut kita tunjukkan bagi khalayak ramaiu dalam rangka dakwah. Jangan sampai kita mengunggah hal-hal yang bisa menjadi bumerang bagi lembaga pesantren yang kita wakili atau status santri yang kita bawa. Kecuali jika itu akun pribadi, terserah-serahlah.

Perhatian terhadap etika ini akan sangat mempengaruhi pertimbangan kita dalam setiap unggahan di medsos. Mulai dari jenis gambar atau video, hingga tata bahasa yang lebih diawasi. Guru-guru kita meneladankan kepada kita tentang pentingnya menjaga ‘haibah’ dan ‘muru-ah’. Jangan sampai kewibawaan dan kehormatan ajaran agung Baginda Rasulullah, khususnya khazanah mulia pesantren, runtuh karena kecerobohan kita di media sosial.

KEDUA, konten. Ada tiga pertimbangan ketika kita hendak mengunggah konten di medsos. Entah itu artikel, gambar, video, atau lainnya. Tiga pertimbangan ini juga bisa menjadi tolak ukur penilaian bagi unggahan-unggahan lain di jagad medsos. Yakni menghibur, informatif, dan inspiratif. Sisi hiburan atau entertain merupakan menu utama di medsos, khususnya instagram. Saya mengamati, untuk sementara ini akun-akun santri ngehits masih berkutat di tataran entartaining ini. Entah berupa gambar santriwati manis pegang kitab, atau video nadzaman bersuara merdu. Ya tidak apa-apa, asalkan tidak berhenti di situ.

Konten harus dilengkapi sisi informatif. Ada sesuatu yang disampaikan. Ada wawasan yang dihidangkan kepada khalayak. Entah itu berupa informasi keislaman ataupun kepesantrenan. Tentu saja dibalut dengan nuansa khas santri yang mengedepankan referensi otoritatif. Misalnya foto balita imut sarungan dilengkapi caption doa agar anak tumbuh menjadi pribadi saleh. Atau vlog pendek santriwati yang sedang ngobrol tentang pentingnya ngaji. Atau lainnya.

Kemudian sisi ketiga, yakni sisi inspiratif, enlighting, mencerahkan, menggugah. Poin ini menempati strata tertinggi yang bisa kita gapai dengan menyentuh sisi kemanusiaan dan spiritualitas konten. Ada konten medsos yang menghibur, tapi tak mengandung informasi apapun dan tak pula mencerahkan. Namun banyak juga konten yang menggugah meskipun tak menghibur dan tak informatif.

Memang tidak mudah membuat suatu konten yang bisa memuat segitiga fungsi ini, ya menghibur, ya informatif, ya mencerahkan. Namun setidaknya tiga sisi ini bisa menjadi tolak ukur admin santri ketika membuat konten sebelum diunggah; “Apakah konten ini menghibur? Apakah informatif? Apakah mencerahkan?”

KETIGA, teknis penulisan. Yakni berkaitan dengan pembuatan caption, berupa artikel pendek di dalam maupun di luar gambar atau video. Hal ini penting diperhatikan sebab tata tulis diibaratkan sebagai busana yang kita pakai. Boleh jadi Anda berwajah ganteng, namun ketika Anda memakai kemeja dengan kancing baju yang slewah, misalnya kancing kelima masuk lubang kedua, tentu akan nampak wagu dan jadi bahan tertawaan. Begitu juga dengan ide yang kita sampaikan melalui kata-kata. Ide adalah isinya, kata-kata adalah busananya.

Saya menyampaikan tiga tips sederhana dalam hal ini. Pertama, utamakan poin utamanya di awal caption. Misalnya ketika mengunggah info pengajian maulid nabi. Kita tidak hidup di zaman ketika pengajian diumumkan melalui mobil kol-bak atau pamflet dengan kata-kata pembukaan yang khas; “Hadirilah! Kunjungilah! Banjirilah! Wahai kaum Muslimin dan Muslimat!”, terlalu bertele-tele. Langsung saja ke inti: “Pengajian Maulid Nabi Muhammad 1439 H. di Pondok Pesantren Krapyak Bersama Habib Syech Assegaf.”

Kedua, gunakan kalimat dan paragrafa pendek. Jangan terlalu panjang. Kalau dirasa suatu kalimat sudah terlalu panjang, penggal jadi dua. Kalau suatu paragraf terlihat terlalu mengular, putus jadi paragraf baru. Ketiga, hindari typo dan pengulangan kata dalam satu kalimat. Sebab, hal-hal semacam itu akan terasa tidak nyaman dibaca khalayak, mengganjal bagai selilit dan merusak kerapian penampilan ide yang kita sampaikan.

Setelah penyampaian, ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Salah satunya pertanyaan dari santri putra. Ia mengakui bahwa untuk menulis, kita harus membaca sebagai asupan. Namun masalahnya adalah ketika banyak di antara kita yang sering dilanda malas membaca. Ia bertanya apa solusinya untuk menambah asupan ketika kita sedang malas membaca?

Saya menjawab secara jujur bahwa mungkin di antara teman-teman di ruangan itu, sayalah yang paling sering malas membaca buku. Namun perlu kita pahami bahwa asupan ide tidak sebatas pada bacaan di buku-buku. Ketika malas membaca buku, Anda bisa jalan-jalan mengamati lingkungan sekitar, atau ngobrol dengan orang-orang yang Anda temui. Semua itu sangat berpotensi menjadi asupan untuk Anda tulis, bahkan lebih riil daripada buku.

Pertanyaan lain yang perlu kita elaborasi diajukan santri putri. Yakni bagaimana kita menumbuhkan niat untuk berdakwah, padahal selama ini kebanyakan yang dialami kalangan santri adalah rasa ‘takut’ dan ‘minder’ berdakwah. Merasa ilmunya masih sedikit, merasa belum pantas berdakwah. Sementara di luar sana, banyak yang baru mulai mengaji tapi sudah begitu menggebu untuk berdakwah. Ya, saya akui hal semacam itu memang diidap oleh kalangan santri, bahkan oleh mereka yang sudah alumni sekalipun.

Menjawab pertanyaan ini, saya tidak mau berceramah panjang lebar tentang kewajiban dakwah setiap muslim, atau tentang tentang urgensi kemunculan kalangan santri di medsos untuk mencegah ekstremisme. Saya hanya menawarkan solusi; kalau memeng sindrom keminderan semacam itu masih membayangi, kita niati saja untuk menyambung lisan para guru di medsos. Makanya, alih-alih membuat konten sendiri, di medsos saya lebih sering menyadur, menerjemahkan, atau menanskrip dhawuh para ulama. Dengan mengolahnya menjadi artikel layak baca. Atau menjadi gambar dengan quote yang menggugah. Atau kalau ada videonya, bisa kita edit, hias, dan buatkan subtitel sehingga bisa menembus hati khalayak ramai.

Terakhir, saya sampaikan bahwa dunia medsos bukan dunia maya, ia termasuk dunia nyata. Sebab orang-orang yang memiliki akun di medsos adalah orang-orang asli (kecuali aplikasi bot dan sejenisnya). Contoh dunia maya adalah seperti ketika kita main Pokemon-Go. Medsos bukan hal maya semacam itu. Maka tidak bisa kita sepelekan. Banyak kekacauan akhir-akhir ini, baik di luar maupun dalam negeri yang dipantik melalui konten-konten di medsos. Sebegitu nyatanya medsos yang terlanjur kita anggap 'maya' itu, sampai-sampai banyak orang bertengkar di sana. Maka santri pun punya peran besar dalam dakwah rahmah dan konstruktif melalui media sosial. Bukan sebagai pengekor tren, tapi harus memiliki karakter khas yang bisa mewarnai dan berkiprah positif.

Krapyak, Rabu 25 Oktober 2017

No comments:

Powered by Blogger.