Filosofi Niat Ngaji Imam al-Haddad

23:08
Di kantor komplek Q (salah satu komplek putri) Pesantren Al-Munawwir ada sekeping plakat unik. Di sana tertoreh tanda tangan dan quote Gus Mus yang berkata; "Boleh berhenti sekolah, tapi jangan berhenti belajar."

Gloria Steinem, tokoh feminis asal Amerika, pernah mengatakan bahwa pendidikan bukanlah sesuatu yang diperoleh seseorang, melainkan sebuah proses seumur hidup. Senada dengan itu, Gus Miek, wali karismatis dari Kediri, menyatakan dalam salah satu ceramahnya bahwa hidup ini sejak lahir hingga mati adalah kuliah tanpa bangku.

Satu lagi, John Dewey, tokoh yang semua sarjana pendidikan pasti kenal, mengatakan bahwa pendidikan bukanlah persiapan menghadapi kehidupan, sebab pendidikan adalah hidup itu sendiri. Sebagai pelajar bidang pendidikan, kerap kubaca dan kudengar ungkapan-ungkapan semacam itu. Namun yang paling membekas adalah ketika ungkapan semacam itu disampaikan dengan tulus dan bungah oleh Mbok Jajan tempo hari.

Selepas prosesi wisuda siang itu, kusempatkan mampir di lapak beliau. Tepat di pintu masuk Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Melihat pelanggan setianya sudah lulus, beliau menyampaikan rasa syukur dan ucapan selamat, sambil menyisipkan nasehat, "Sampun mandek sinau nggih, Mas."

Mak deg!
~

Kita semua sepakat bahwa hidup ini adalah proses belajar yang takkan usai. Setiap tempat adalah kelas, setiap orang bisa jadi guru, setiap informasi bisa jadi mata pelajaran, dan setiap masalah adalah ujian. Kalau begitu, maka konsekuensinya kita akan memperlakukan setiap hela napas dan kesadaran sebagai proses belajar. Dalam istilah kaum santri, proses ini disebut 'ngaji'.

Kerancuan muncul ketika kita tidak punya pagar-pagar definisi mengenai apa itu ngaji dalam kehidupan, bagaimana melakoninya, dan kemana arah muaranya? Ketidakpahaman terhadap cakupan dan batas, hulu dan hilir, asal dan tujuan, akan membuat langkah kita serba ngawur.

Untungnya, para guru sudah mengajarkan niat ngaji kepada kita. Di beberapa pesantren, pembacaan niat ngaji ini masih dilestarikan sebelum memulai pengajian formal (pembacaan dan pengajian kitab-kitab klasik). Yakni;

نويت التعلم والتعليم والتذكر والتذكير والنفع والانتفاع والافادة والاستفادة والحث على التمسك بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم والدعاء الى الهدى والدلالة على الخير ابتغاء مرضاته وقربه وثوابه وحسن الخاتمة مع اللطف والعافية وصلاح العاقبة

Niat ngaji ini, konon diformulasi oleh seorang ulama besar, wali agung, bijak bestari, yakni al-Imam as-Sayyid Abdullah bin 'Alawi bin Muhammad al-Haddad. Ulama tunanetra abad ke-12 hijriah asal Hadramaut yang karyanya banyak dikaji di pesantren-pesantren Nusantara, bahkan seluruh dunia. Secara simbolik, niat ini memang sekedar dibaca sebelum memulai pengajian formal, namun secara filosofis sangat patut kita terapkan dalam perjalanan ngaji kehidupan.

~

نويت التعلم والتعليم

"Nawaytut ta'alluma wat ta'liima. Aku berniat belajar dan mengajar."

Satu dari sekian banyak doktrin pesantren yang biasa diwejangkan kiai kepada santrinya yang sudak bermasyarakat adalah; "Nek ora mulang yo ngaji. Nek ora ngaji yo mulang."

Kalau memang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengajarkan tempaan ilmu selama di pesantren, maka mengajarlah. Jika memang tidak, misalnya sebab sudah ada yang menangani, ya mengajilah.

Bahkan para guru di kampung-kampung juga masih menggelar forum khusus sebagai wadah ngaji bagi mereka. Berupa forum diskusi kitab atau semacamnya. Biasanya diampu oleh guru yang paling disepuhkan secara ilmu maupun usia.

Intinya, jangan sampai masa hidup terlalui tanpa aktivitas keilmuan. Hanya memenuhi isi perut dan asupan lahiriah, tapi melalaikan asupan ilmu pengetahuan yang merupakan penyegaran batiniah.

والتذكر والتذكير

"Wat tadzakkuro wat tadzkiiro. Dan mengambil peringatan dan memperingatkan."

Dalam proses ngaji ini kita butuh agar selalu diingatkan tentang hulu. Yakni dari mana kita berasal. Tugas apa yang kita emban. Serta sebagai siapa peran kita di muka bumi.

Sebagai muslim, kita sudah dianugerahi panduan yang sangat gamblang tentang semua itu. Bahwa kita adalah makhluk spiritual yang memiliki fitrah penghambaan (insān), juga makhluk biologis yang butuh pemenuhan kebutuhan fisik (basyar), dan makhluk sosial yang musti berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat (nās).

Intinya, proses ngaji yang kita jalani ini diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan fisik, berkiprah nyata di ranah sosial kemasyarakatan, dan pembersihan jiwa agar bersih saat kembali pulang kepada-Nya.

والنفع والانتفاع والافادة والاستفادة

"Wan naf'a wal intifaa'a, wal ifaadata wal istifaadah. Dan mengambil manfaat serta berbagi manfaat. Dan mengambil faedah serta berbagi faedah."

Bagian ini menegaskan fungsi kontributif manusia dalam kehidupan. Mengambil dan memberi manfaat. Menadah dan berbagi faedah. Inilah dua proses timbal balik yang produktif dan kontributif. Salah satu buah dari filosofi ini ialah sikap untuk tidak ikut nimbrung pada hal-hal yang tidak ada faedahnya. Terutama di era keramaian media sosial.

Namun bagaimana mengukur keberadaan atau ketiadaan faedah? Sederhana saja. Ketika ada satu isu, kejadian, atau apapun yang bersinggungan dengan hidup kita, pakai dua ukurab timbal balik itu; (1) Adakah manfaat yang bisa kita petik dari hal tersebut? (2) Adakah kemanfaatan yang bisa kita berikan pada hal tersebut?

Kalau tidak ada, karena itu memang bukan bidang dan spesialisasi kita, maka tak usahlah kita turut nimbrung. Buat apa ikut ribut-ribut? Mending kita sibuk pada ladang garapan kita sendiri yang bisa dijangkau, dan kita bisa ber-ifādah dan ber-istifādah di dalamnya.

والحث على التمسك بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم

"Wal khatstsa 'alat tamassuki bi kitaabillaahi wa sunnati rasuulihi shollalloohu 'alayhi wa sallam. Dan berupaya berpegang pada Kitab Allah serta sunnah Utusan-Nya."

Lalu apa landasan utama proses belajar seumur hidup ini? Tegas kita nyatakan; ajaran-ajaran suci Tuhan yang termaktub dalam Kitab-Nya. Setiap kepercayaan punya tuntunannya masing-masing. Tiap agama punya kitab sucinya sendiri. Silakan amalkan sebaik dan semampu mungkin. Dan bagi umat Islam, jelas panduannya adalah Quran.

Apakah bisa kita mengamalkan Quran begitu saja? Tentu tidak. Kita mencoba semampu mungkin mengamalkan ajaran Quran yang diteladankan oleh Baginda Muhammad sebagai utusan Tuhan. Tentu saja dengan pengamalan yang berdasar pada basis keilmuan yang kokoh (amaliah ilmiah). Bukan pengamalan yang membabi buta dan menafikan kearifan budaya dan keniscayaan perbedaan paham, apalagi sampai mudah mencap kafir pihak yang berbeda tafsir.

Urusan keteladanan ini menjadi unsur sangat penting dalam proses ngaji kehidupan kita. Inilah -kukira- yang menjadi perbedaan curam antara teori pendidikan sekuler dengan pendidikan Islam. Yakni adanya sosok teladan yang biasa kita sebut guru.

Memang betul bahwa pengetahuan bisa didapatkan dimanapun dengan cara apapun. Bebas merdeka. Namun tetap saja, penempaan karakter membutuhkan sosok guru sebagai model keteladanan. Ingat, sebagaimana kusebut di atas, ada tiga aspek kemanusiaan. Pendidikan dalam aspek fisik dan sosial (basyar dan nās) mungkin bisa dilalui secara mandiri. Namun aspek spiritual dan transenden (insān) jelas membutuhkan pembimbing ruhani, yang dalam tradisi tarekat dikenal sebagai mursyīd atau murabbiyu ar-rūh.

Pernah seorang kawan santri mengeluh. Katanya, kalau mondok di pesantrennya dahulu, sepuluh tahun sudah bisa melahap puluhan atau bahkan ratusan kitab. Sedangkan di pesantrennya kini, sepuluh tahun dia tak khatam kitab apapun, bahkan kemampuannya baca kitab mulai pudar. Namun belakangan, dia merevisi keluhannya itu.

Pasalnya, ia mulai menyadari bahwa hal utama yang sangat membekas selama di sini ialah keteladanan gurunya. Berupa kekokohan prinsip, kedisiplinan usaha lahir, sikap sosial menghadapi masyarakat, dan tentu saja keberserahan kepada Tuhan. Keteladanan yang ia saksikan langsung semacam itu, katanya, lebih berharga daripada menelaah ratusan kitab.

والدعاء الى الهدى والدلالة على الخير

"Wad du'aa-a ilal hudaa wad dilaalata 'alal khoyri. Dan seruan kepada hidayah, serta penunjuk kepada kebaikan."

Dakwah merupakan keniscayaan bagi umat Baginda Muhammad, siapapun dia, apapun perannya. Entah dia bergiat dalam bidang kelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan humanis, kesehatan, kesenian, energi terbarukan, pemulasaraan fauna dan flora, setiap muslim punya jatah dakwah sebagai bakti pada Sang Nabi.

Tentu saja, dakwah tak melulu ceramah. Itu hanya salah satu bentuknya yang paling sederhana. Dakwah adalah tentang penerapan etos hidup yang sesuai dengan ajaran Quran dan teladan Baginda Nabi. Dalam rangka menciptakan hubungan harmonis antara hamba dengan Penciptanya, dan keharmonisan antara hamba dengan sesama makhluk-Nya.

ابتغاء مرضاته وقربه وثوابه وحسن الخاتمة مع اللطف والعافية وصلاح العاقبة

"Ibtighoo-a mardhootihi wa qurbihi wa tsawaabihi wa khusnil khootimah, ma'al luthfi wal 'aafiyah, wa sholaakhil 'aaqibah. Untuk meraih kerelaan-Nya, kedekatan-Nya, ganjaran-Nya. Serta meraih penutup masa hidup yang baik, kelembutan dan kewarasan, juga baiknya pungkasan."

Inilah tujuan proses belajar itu. Muara proses ngaji yang dilakoni sepanjang hayat. Yakni berakhirnya episode hidup dengan keindahan. Ada yang jaya raya ketika muda, berjubah kekuasaan dan bermahkota kesombongan, namun terpuruk di akhir hidupnya. Bahkan ditenggelamkan di dasar laut dan mayatnya terawetkan, menjadi peringatan bagi kita hingga sekarang.

Puncak dari segala tujuan ngaji kehidupan adalah kerelaan Tuhan sebagai Asal Muasal dan Tanah Air Sejati kita semua. Bagi orang-orang istimewa, ganjaran atau pahala memang bukan hal penting. Yang penting adalah kerelaan Tuhan.

Namun bukan berarti segala macam jenis pahala itu kemudian kita sepelekan. Sebab tentu saja tak pantas jika kita menyepelekan hadiah dari siapapun yang kita cinta. Pahala adalah bonus, hadiah, bentuk apresiasi Tuhan kepada hamba-Nya. Sedangkan tujuan utama adalah Dia dan kerelaan dari-Nya.

الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

_________
Yogyakarta, Wisuda Sarjana, Rabu Wage 26 Shafar 1439, 15 November 2017.

No comments:

Powered by Blogger.