Obrolan Sampah di Grup Watsap

18:13
Sebagai penganut fungsionalisme, saya selalu mencoba memahami terlebih dahulu apa fungsi dari sesuatu yang saya terlibat di dalamnya. Kalau ada fungsinya, ya lanjut. Kalau tidak, lha buat apa. Terutama berkaitan dengan media-media komunikasi daring zaman sekarang. Demi menghindari kesia-siaan dan sampah pikiran.

Di facebook ataupun instagram, saya bisa mengantisipasi sampah informasi dengan hanya berlangganan halaman-halaman hiburan atau ide-ide kreatif. Serta hanya mengikuti orang-orang yang berkiprah pada bidang-bidang kuasanya masing-masing dan kerap berbagi opini atau pengalaman dalam bidangnya itu. Kalau yang isinya melulu curhat, sambat tentang negara, pamer selfie, apalagi provokasi, biasanya tidak saya ikuti kabar kronologinya, meskipun masih berteman.

Dengan begitu, saya banyak mendapat ide-ide segar dan informasi konstruktif dari berbagai belahan bumi, sekaligus bisa menjalin jejaring dengan teman-teman yang sefrekuensi. Dengan begitu, saya jadi tak begitu terpapar polusi sampah informasi -terutama hoax dan ribut politik- yang sering dikeluhkan sebagian teman, sehingga membuat mereka memilih off dari media sosial secara permanen.

Penyaringan semacam itupun, sebenarnya, saya rasa masih kurang. Meskipun informasi yang masuk adalah hal-hal yang positif, banyak di antara muatan itu yang tidak perlu kita tahu. Artinya, tetap saja masih ada potensi sampah informasi yang menyerbu kepala. Bedanya, dampak sampah informasi positif 'sekedar' membuang waktu. Sedangkan tumpukan sampah info negatif tidak hanya menggerogoti produktivitas waktu, tapi juga meracuni pikiran dan berpengaruh buruk terhadap kondisi emosional. Maka bermedsos pun akhirnya saya jadwal, hanya siang atau sore hari sehabis berkegiatan. Sebisa mungkin tidak di pagi hari saat ide kerja lagi segar-segarnya, atau malam hari menjelang rehat saat pikiran dan mata butuh rileks-rileksnya.

Tapi ada satu ruang yang belum bisa saya antisipasi, yaitu grup Watsap. Ruang ini sangat bermanfaat jika dipakai sesuai peruntukannya. Sejak awal pasang watsap hingga hari ini menggunakan, saya merasa terbantu betul dengan aplikasi ini. Sebab kita bisa saling berkirim pesan dengan data yang relatif murah, mengirim file gambar, dokumen, hingga audio-video, yang tentu memudahkan berbagai pekerjaan, transaksi bisnis, dan urusan-urusan sosial.

Bagi saya, fasilitas ini sangat berguna untuk rembugan agenda, konsolidasi komunitas, atau koordinasi acara-acara riil. Terutama untuk koordinasi momen-momen insidental atau berbagi ide dan solusi atas problem riil di lapangan. Sangat efisien dan efektif. Namun sayangnya, tak sedikit pemakai grup watsap yang memiliki 'semangat dakwah' dan 'semangat silaturrahmi' meluber-luber, sehingga menjadikan grup watsap sebagai corong pidato berupa tautan atau artikel-artikel panjang, maupun jenak berkelakar hingga dini hari.

Bukan berarti saya melarang Anda berbagi info atau guyon di grup watsap. Lagipula siapa saya, menkominfo pun agaknya juga tak seberwenang itu. Tapi saya kira semua hal ada kadarnya, ada momennya, bahkan ada tempatnya. Pemahaman tentang ruang dan waktu yang pas terhadap sesuatu disebut dengan 'kebijaksanaan'. Yak, hidup orang dewasa -mustinya- adalah hidup bijaksana.

Grup proyek tentu diperuntukkan rembug babagan proyek. Grup kelas untuk berbagi info tentang agenda kelas. Grup alumni untuk koordinasi reuni, berbagi kabar dan perkembangan teman-teman seangkatan. Grup keluarga untuk berbagi info kekeluargaan. Grup organisasi ya untuk rembug agenda atau lainnya yang berkaitan dengan organisasi itu.

Kalau mau berbagi tautan atau artikel panjang di grup kesehatan misalnya, ya bagilah tautan yang ada kaitannya dengan kesehatan. Bukan tautan propaganda politik. Di grup keluarga ya berbagilah siaran yang berkaitan dengan tema-tema relevan. Pendidikan anak kek, tips berkebun kek, atau resep masakan kreatif.

Begitu juga guyon. Saya punya akidah bahwa guyon berlarut-larut hanya pas digelar di darat. Dengan saling melihat ekspresi, ketawa lepas, dan terpingkal-pingkal. Sangat tidak asyik berlama-lama guyon di grup watsap ataupun fasilitas obrolan kelompok elektronik lainnya. Dilhat pun tak enak, ketika kau ngekek guyon di depan ponsel dengan orang-orang virtual di grup watsap, sementara di kanan kirimu ada orang-orang non-virtual yang tak kau ajak guyon. Apalagi kalau itu terjadi di ruang keluarga. Sangat wagu.
Kemudian ada yang beralasan, "Ya biar gayeng lah, biar nggak sepi grupnya.."

Oh, justru grup watsap yang berwibawa dan fungsional adalah grup yang 'sepi' dan ramai seperlunya saja. Ramai ketika rembug suatu hal yang fokus. Saat rembugan mulai mengalami ketegangan, panas, dan berpotensi ribut, maka silakan guyon seperlunya untuk mendinginkan suasana. Bukan kemudian tiba-tiba Anda memancing guyon sebab, "Grupnya sepi banget sih."

Justru itu bagusnya. Bila suatu grup watsap sepi, dan hanya ramai saat ada hal yang urgent, maka ketika ada pemberitahuan jumlah percakapan di layar ponsel, Anda akan membukanya dengan sepenuh hati. Tapi bila suatu grup kebanyakan 'sampah' sebagaimana yang kusebutkan di atas, dengan jumlah pemberitahuan percakapan hingga ratusan, maka wajar saja jika Anda malas membukanya. Dan ternyata setelah dibuka, betul, dari ratusan percakapan itu hanya 20% yang urgent, dan 80% sisanya nggak jelas. Maka grup watsap pun jadi tidak berwibawa.

Persis nasibnya menimpa layanan surat elektronik (e-mail). Dulu, surel begitu berwibawa, hingga saat Anda mendapat satu pesan, rasanya begitu 'wow'. Kini, kita bisa mendapat puluhan hingga ratusan pesan dan membuat surel tak lagi 'sakral'. Begitu pula dengan SMS, ketika kotak masuk hari ini dipenuhi dengan layanan provider. Berkurang wibawanya. Maka satu-satunya langkah untuk membuat semua fasilitas itu efektif, efisien, dan kembali berwibawa adalah dengan melakukan penyaringan sebagaimana saya uraikan di atas.
Adapula jenis sampah lain, yakni percakapan salinan. Misal ada satu anggota grup yang muncul minta doa untuk kelancaran usaha barunya. Kemudian anggota grup lain membalas, "Aamiin..". Begitu diikuti puluhan atau ratusan balasan lainnya, dengan berbagai modifikasi tentunya. Maka muncullah puluhan pemberitahuan percakapan yang isinya hanya "Aamiin..". Hal semacam itu memang cocok di kolom komentar privat facebook, instagram, atau semisalnya. Tapi saya kira tidak cocok di ruang obrolan publik semisal grup watsap.

Kalaupun tetap gatal untuk membalas sebagai bentuk tepo saliro, sebisa mungkin imbuhi dengan kalimat lain yang bersifat informatif atau afirmatif. Misal, "Aamiin.. wah itu lokasinya dimana ya? Saya mau mampir," atau, "Aamiin.. Bagus itu. Kalau ingin kerjasama, bisa kontak saya. Ada teman yang grosir produk itu." Kalau memang tak ada info, hanya ekspresi dukungan "Aamiin" thok, ya langsung saja balas melalui saluran pribadi ke nomor anggota grup tersebut. Sederhana 'kan?

Pada akhirnya, saya tidak bisa memaksakan orang lain bersikap sebagaimana sikap saya terhadap grup watsap. Namun setidaknya saya sudah punya rambu-rambu pribadi. Tujuannya ya untuk meminimalisasi agar waktu dan isi pikiran saya tidak terzalimi, apalagi menzalimi. Dan prinsip semacam ini tak hanya berlaku dalam pasal ber-grup-watsap-ria. Tetapi juga berlaku bagi segala jenis medsos, dan lebih luas lagi, berlaku bagi segala lini muamalah antarmanusia.

_____
Jogja, Rabu 8 November 2017

No comments:

Powered by Blogger.