Hubungan Erat Antara Keibuan dan Kewalian

21:02
Oleh: Zia Ul Haq

Ketika sedang thawaf di Masjidil Haram, Syaikh Abdul Qodir al-Jailani melihat sesuatu yang unik. Ada seseorang yang berthawaf mengelilingi Ka'bah dengan berjalan menggunakan satu kaki.


Syaikh Abdul Qodir al-Jailani yang saat itu merupakan pemimpin para wali (sulthanul awliya) yakin betul behwa orang ini termasuk dalam golongan wali Allah. Terus ia amati orang itu sambil memeriksa di 'daftar para wali'. Namun ia tak menemukan sosok berkaki satu itu di daftarnya. Akhirnya ia putuskan untuk bertanya langsung.

"Maaf, Anda siapa?"

"Saya wanita dari Baghdad. Saya berthawaf dengan satu kaki, sebab satu kaki yang lain saya tinggalkan karena ada anak saya sedang lelap tertidur di pangkuannya," jawabnya.

Tentu saja Syaikh Abdul Qodir mafhum bahwa hal ini merupakan satu bentuk keramat yang diperkenankan oleh Allah. Namun ia masih belum paham mengapa tidak ada nama wanita ini di daftar para wali.

"Maaf, Nyonya. Berkali-kali saya periksa di daftar kewalian, namun saya tidak menemukan nama Anda," tanya Syaikh Abdul Qodir yang pernah berujar bahwa kakinya berada di pundak para wali sedunia.

"Tentu saja. Daftar itu hanya untuk Anda dan orang-orang semisal Anda. Sedangkan saya sudah mendahului Anda," tukas wanita itu.

Kisah ini dikutip oleh Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi dalam karyanya, Kunuzus Sa'adah al-Abadiyyah, yang dulu pernah dikaji oleh Habib Jindan bin Novel tiap malam Jumat di Al-Fachriyyah Ciledug. Di halaman 152, beliau berkomentar;

"Begitulah adanya. Sampai-sampai dikatakan bahwa;

كم من قُصة خير من لحية

Betapa banyak rambut panjang (wanita) yang lebih baik daripada jenggot panjang (pria)."

Kemudian Habib Ali al-Habsyi menyebutkan kisah seorang wali. Ada seorang 'arif billah yang memiliki budak. Si majikan ini selalu mengamati budaknya itu, ia teliti kegiatan ibadahnya setiap hari. Sampai-sampai ada seorang kawan penasaran, mengapa ia begitu antusias mengamati budaknya itu. Lalu jawabnya,

"Saya heran. Amal ibadahnya sama seperti amal ibadah saya. Tapi setiap kali saya naik maqam spiritual, selalu saja saya melihatnya sudah ada di depan. Dia sudah mendahului saya!"

Kemudian Habib Ali al-Habsyi menorehkan syair tentang hakekat anugerah;

وليس اختص بذي انساب
ولا باهل الجد والاكساب
بل فيض فضل منعم وهاب
فيه النساء يقسمن كالرجال

"Tiada terkhusus bagi pemilik nasab keturunan tertentu, atau terkhusus bagi pemilik kesungguhan dan upaya. Melainkan semata-mata limpahan anugerah dari Sang Penganugerah dan Pelimpah, di mana para wanita mendapatkan hal yang serupa dengan para pria."

Memang betul bahwa faktor genetik dan kesungguhan berupaya sangat penting dalam kesuksesan lahir batin seseorang. Namun jangan lupa, itu semua adalah anugerah dari Allah Ta'ala yang merupakan hak prerogatif-Nya semata untuk memberi atau menahan. Gusti Allah sama sekali tidak berkewajiban memberi anugerah kepada makhluk-Nya, semua anugerah itu semata-mata sebab Kasih-Nya. Hingga dikatakan oleh Syaikh Ahmad ad-Dardiri, sebagaimana dikutip Kiai Ihsan Jampes dalam Sirajut Thalibin;

ومن يقل فعل الصلاح وجبا
على الاله قد اساء ادبا

"Orang yang mengatakan bahwa berbuat baik adalah kewajiban bagi Tuhan, maka ia telah berburuk sikap (su-ul adab) kepada-Nya."

Dalam hal kesetaraan wanita dan pria dalam urusan kewalian ini, Syaikh Nazhim al-Haqqani pernah menyinggungnya. Bahwa wanita bisa jauh melampaui pria sebab mereka punya modal fitrah berupa sifat keibuan. Sedangkan sifat keibuan sangat kental dengan nuansa kasih sayang, rahmat. Nuansa kasih sayang ini identik dengan para kekasih Allah (awliya), serta terhubung langsung dengan kasih sayang-Nya ar-Rahman ar-Rahim.

Penjelasan ini mengingatkan kita pada satu hadits Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam. Saya ingat betul hadits yang tercantum dalam Shahih Bukhari ini, ketika mengaji kitab Jawahirul Bukhari di ndalem Kiai Muhammad Hasani pada saat pasanan Giren.

Bahwa Allah Ta'ala menciptakan cinta kasih menjadi 100 bagian. Satu bagian cinta kasih itu Dia limpahkan ke alam dunia, sedangkan sisanya (99) Dia simpan dalam perbendaharaan-Nya. Nah, dengan satu bagian cinta kasih itulah seekor induk kuda merawat anaknya dan melindunginya dari segala marabahaya.

Dalam hadits tersebut, Baginda Rasulullah menyebutkan kasih sayang keibuan sebagai suatu bentuk cinta kasih tertinggi di alam mayapada ini. Di titik ini saya teringat, suatu kali di Cikura, Kiai Ahmad Saidi menyatakan sambil terisak haru, bahwa kasih sayang Rasulullah kepada umatnya bagaikan kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya.

Demikianlah keluhuran fitrah keibuan dalam diri wanita, sehingga bisa menjadi roket pendorong yang sangat ampuh bagi derajat spiritualnya di hadapan Tuhan. Maka wahai para ibu muda dan calon ibu, berbahagialah karena kalian telah dimodali oleh Allah untuk mengenal-Nya, untuk menjadi kekasih-Nya. Jangan sia-siakan.

Terakhir, saya teringat pesan Kiai Ubaidillah Hamdan saat ngaji di Bintaro dahulu. Bahwa doa seorang ibu lebih ampuh ketimbang doa empat puluh wali berderajat quthb. Itu baru ibu biasa, lalu bagaimana dengan ibu yang ahli ibadah dan menjadi wali-Nya? Wallahu a'lam.

_____
Krapyak, Ahad 7 Januari 2018
Menyambut Haul Solo 1439

No comments:

Powered by Blogger.