Kerja, Pegawean, Dolanan

22:07
"Kerjane ning endi (kerja di mana)?" merupakan pertanyaan wajar saat ini ketika seseorang ingin tahu perihal karir orang lain. Saya percaya bahwa kata-kata merupakan etalase pola pikir, yang mana pola pikir ini terbentuk oleh pengalaman hidup dan budaya.

Nah, pertanyaan semacam itu, saya kira, berasal dari pola pikir dan budaya urban modern. Ada dua asumsi. Pertama, betul-betul menanyakan lokasi geografis, karena merantau sudah lazim saat ini. Asumsi kedua, menanyakan perusahaan atau lembaga tempat bekerja, sebab kultur pendidikan saat ini memang mengarahkan orang untuk menjadi pegawai. Dari dua asumsi inilah kemudian pertanyaan "Kerja di mana?" terlontar secara reflek. Jawabannya bisa berupa kota tempat kerja atau kantor tempat kerja. "Di Surabaya," "Di Kementerian Industri," "Di Gojek," "Di SMA Satu," "Di warteg," dan sebagainya.

Hal ini sangat berbeda saat saya masih kecil di kampung halaman, suatu desa sejuk di kaki gunung Slamet. Dan mungkin di desa Anda juga demikian. Saya tidak pernah mendengar orang-orang menanyakan pekerjaan dengan kalimat seperti itu. Biasanya pertanyaan yang diajukan adalah, "Pegaweane apa?" atau "Lagi nggarap apa?" Yakni pertanyaan-pertanyaan tentang jenis aktivitas yang digeluti, bukan lokasi atau posisi.

Nah, pertanyaan semacam itu lahir dari pola pikir tradisional yang sangat kokoh dari sisi keberdayaan dan independensi. Asumsinya, pertama, seseorang bekerja di sekitar wilayah ia berasal sebagaimana umum saat itu. Asumsi kedua, setiap orang punya keahlian dan lahan usaha masing-masing, aksi aktif, yang tidak terkait dengan suatu lembaga usaha besar. Entah layanan jasa, berladang, atau berdagang. Jadi jawaban atas pertanyaan ini langsung berkaitan dengan keahlian; "Jualan sayur," "Nggawe batako," "Nyawah," "Mulang," atau "Nyunat."

Bahkan dahulu sering saya dengar obrolan orang-orang dewasa di kampung ketika menanyakan pekerjaan antar sesama mereka dengan istilah, "Dolanan apa saiki (Mainan apa sekarang)?" Seakan-akan pekerjaan itu sekedar permainan untuk mengisi waktu luang. Jawabannya, "Dolanan lemah (mainan tanah)," berarti tukang tukar guling tanah, "Dolanan wesi," berarti juragan logam, dan semisalnya.

Jelas pola pikir satu ini sudah menempati maqam yang canggih. Menempatkan aktivitas kerja yang begitu diseriusi manusia modern (bahkan banyak yang sampai stress) hanya sebagai kegiatan hiburan. Artinya, mereka terbentuk dari budaya masyarakat yang menganggap pekerjaan, karir, dan pencapaian materi bukan sebagai aktivitas utama. Perhatian utama mereka tentu saja kecukupan kebutuhan primer dan ketenteraman batin. Uniknya, meskipun mereka tidak menjadikan permainan itu sebagai fokus utama, mereka tetap tidak main-main dalam permainan ini, tetap 'tenanan'.
Terakhir, kita bisa memetik pelajaran dari sisi kebahasaan tiga istilah ini. Kerja, 'gawe', dan 'dolanan'. Pertama, dalam bahas Indonesia istilah 'kerja' bisa menjadi kata aktif, tapi seringnya dalam kenyataan hidup justru yang kita rasakan adalah bentuk pasifnya, yakni 'dikerjai'. Kedua, istilah 'pegawean' berasal dari kata 'gawe' yang maknanya 'membuat' (create), dan kalau kita alihbahasakan ke dalam bahasa Inggris, kata 'pegawean' secara leterlek bisa menjadi 'creativity'. Ketiga, istilah 'dolanan' dalam bahasa Arab disebut 'la'ibun', sangat selaras dengan apa yang diajarkan Quran, bahwa tetek bengek kehidupan duniawi hanyalah permainan (la'ibun) dan senda gurau (lahwun) belaka.

Krapyak 25/01/2018

No comments:

Powered by Blogger.