Tiga Strata Jarak Hamba Kepada Allah

01:16
Oleh: Zia Ul Haq

Dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia terbagi dalam tiga strata. Demikian disampaikan Kiai Nawawi Banten dalam tafsirnya, Marah Labid, ketika menafsiri dua ayat terakhir Surat Al-‘Ankabut (ayat 68-69). Kiranya perlu bagi kita untuk memahaminya, bukan untuk menudang-nuding orang lain, tapi untuk mengoreksi diri sendiri, kemudian mengupayakan perbaikan pribadi.


Pertama, orang yang jauh dari Allah dan enggan mendekat. Istilah ‘jauh’ dalam tema-tema semacam ini tentu bukan dalam ukuran metris, bukan dalam lingkup empat hingga tujuh dimensi. Melainkan perlambang bagi koneksi spiritual antara makhluk serba berbatas dengan entitas tanpa batas. Orang semacam ini disebutkan dalam ayat;

ومن أظلم ممن افترى على الله كذبا او كذب بالحق لما جاءه اليس في جهنم مثوى للكافرين

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang Haq tatkala yang Haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?”

Kalau Anda berani melakukan makar terhadap satu pemerintahan, maka Anda patut dihukum oleh penguasa di situ. Padahal luas wilayah, pengaruh dan kuasa pemerintahan itu sangat terbatas. Lalu bagaimana jika Anda menyekutukan Kerajaan Allah yang mutlak kekuasaan-Nya?

Kalau Anda berani mendustakan orang yang berbicara jujur, maka Anda adalah orang zalim. Padahal orang itu tetap berkemungkinan bicara bohong. Lalu bagaimana jika Anda mendustakan keberadaan Allah yang sangat gamblang, serta mendustakan kabar yang disampaikan utusan-utusan-Nya yang memiliki kredibilitas unggul di antara sekalian manusia? Inilah yang dalam terma teologi agama Islam disebut sebagai ‘kafir’.

Hamba membaca ayat ini justru yang terpikir adalah diri sendiri, bukan orang-orang lain iman di luar sana. Mengapa? Sebab orang yang berpotensi mendustakan suatu kabar adalah orang yang pernah mendapatkan kabar tersebut. Orang di luar sana mungkin memang belum mendapatkan dakwah risalah. Sedangkan diri ini sudah, maka yang berpotensi mendustakan ya kita-kita ini, dan kita berlindung kepada Allah dari pendustaan terhadap-Nya dan terhadap ajaran-Nya.

Kedua, orang yang sadar bahwa kualitas dirinya perlu diperbaiki. Semoga di strata inilah minimal kita berada. Sehingga ia terus menerus berupaya menapaki jalan kebaikan seoptimal mungkin. Sebagaimana disebutkan di akhir ayat;

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Terjemahan di atas adalah versi Kementerian Agama. Tentu saja, dengan kondisi sosial saat ini, plus keterbatasan pemahaman, kita akan menghubungkan ayat ini kepada jihad perang (qital). Padahal ayat ini termasuk dalam rangkaian wahyu yang turun di Mekah pra-hijrah (Makkiyyah), sehingga belum ada perintah berperang. Jadi apa makna jihad di situ?

Maknanya, menurut penafsir; orang-orang yang berjuang melakukan berbagai macam ketaatan kepada Allah –dalam ayat ini disebut ‘berjihad’- akan dituntun oleh Allah menuju jalan-jalan pahala yang lebih luas. Atau bisa juga dimaknai; orang yang mau berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam semesta, akan dituntun oleh Allah menuju jalan-jalan pemahaman terhadap-Nya (ma’rifat).

Jadi memang konteksnya adalah perjalanan keyakinan menuju keimanan yang kokoh, tauhid. Kemudian setelah bertauhid, ia mengikrarkan diri sebagai orang Islam. Di sinilah dimulainya strata orang beragama, yang melakukan aturan-aturan dan ritual-ritual keagamaan dengan tekun untuk mendapatkan ganjaran yang sesuai dengan apa yang ia perbuat. Inilah tingkatan orang yang pedekate kepada Allah.

Ketiga, orang yang bukan sekedar dekat dengan Allah, tetapi justru ‘bersama’ Allah. Yakni orang-orang yang berbuat Ihsan, yakni kebaikan tanpa ukuran formalitas, pelakunya disebut ‘muhsin’. Disebutkan dalam potongan ayat terakhir;

وإن الله لمع المحسنين

“Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat Ihsan.”

Kalau orang beragama di strata formal masih memperhitungkan pahala sekian-sekian dalam amalnya, orang muhsin sudah los semuanya. Misal, orang yang naksir kepada Laila akan lewat di depan rumahnya ketika Laila sedang duduk santai di beranda, dengan tujuan agar ia melihat Laila dan Laila melihatnya. Tapi orang muhsin akan tetap lewat mondar-mandir di situ meski Laila tak nampak di beranda, bahkan mengecup pagar rumah Laila ketika ia telah tiada, sambil berderai air mata.

Orang yang berada di tingkatan ini dibersamai Allah dalam ucapan maupun tindakannya. Dibersamai dengan penjagaan dari kemaksiatan dan marabahaya. Dibersamai dengan petunjuk untuk melakukan hal-hal yang tepat meskipun tak sesuai nalar jangka pendek manusiawi. Namun tentu saja, semakin naik kualitas stratanya, makin mengerucut kuantitas para pencapainya. Dan peraih kedudukan ini bukan orang-orang yang gemar umbar diri dan berlaku adigang adigung adiguna.

Adanya strata pertama, bukan untuk kita gunakan mencaci maki orang lain dengan tudingan ‘dasar kafir!’ dan semacamnya. Melainkan sebagai pagar untuk menjaga diri kita sendiri agar tak menjadi seperti itu. Adanya strata ketiga, yang tertinggi, agar kita berhati-hati dalam sikap kepada siapapun, barangkali ada di sekeliling kita orang yang senantiasa dibersamai Allah. Sedangkan strata kedua, tentu saja agar kita –yang semakin hari semakin tua ini- sadar diri bahwa untuk mencapai hasil harus ada upaya yang sungguh-sungguh. Tak sekedar leyeh-leyeh santai sambil berujar, “Ah, nanti juga sampai.”

_________
Krapyak, Senen Legi 17 Bakda Mulud 1438. Marah Labid Syaikh Nawawi al-Bantani, II/161. Gambar: lorong Masjid Bawah Tanah Komplek Tamansari, Jogja.

No comments:

Powered by Blogger.