Mangku Bumi

18:53
Kalau direnungkan, kayaknya memang tak ada urusan kreasi manusia yang betul-betul tertata dalam skup luas secara sosial. Entah politik, moneter, hukum, farmasi, teknologi, edukasi, apalagi militer dan ekonomi.

Semua serba semrawut. Kalaupun tertata dalam satu entitas, ternyata bersilang sengkarut dengan wilayah bidang lainnya. Kelihatannya rapi, padahal ruwet. Seperti kerapian orang-orang berdasi dan berpenampilan parlente, padahal di dalam pikirannya penuh keruwetan; proyek, jadwal, agenda, birokrasi, hiburan, deposito, asuransi, dan seterusnya.

Mungkin itu alasannya mengapa Gusti Allah tempatkan lahan manusia cukup di bumi saja. Cukup di satu titik mungil di luasnya samudera alam semesta. Cukup berebut sepetak dua petak tanah di situ saja, tak usah merusuh ke sana-sana, tak usah menjajah minyak dan batu bara ke tepi bimasakti atau ke ujung andromeda.

Kalau suatu saat bumi ini ditubruk asteroid raksasa kemudian njeblug, misalnya, mungkin akan nampak seperti letupan gelembung sabun kecil di awang-awang bila ditonton oleh para malaikat di pinggir galaksi seberang sana. Bagi kita mungkin dianggap sebagai kiamat kubro, namun bagi kerajaan besar semesta raya, hanya semacam 'gigitan semut' saja.

Atau mungkin suatu saat kelak perang nuklir benar-benar terjadi dan lima benua betul-betul luluh lantak, menghabiskan seluruh populasi manusia. Maka menjadi wewenang prerogatif Gusti Allah 'menurunkan' spesies baru dari surga untuk membenahi kerusakan yang kita tinggalkan. Mewahyukan 'manual kehidupan' baru, mengutus para rasul baru. Menjadi kiamat bagi kita, namun awal sejarah bagi mereka.

Manusia dianggap mulia bukan karena mulia dengan sendirinya. Ia menjadi mulia sebab dimuliakan. Manusia dimuliakan oleh Gusti Allah beserta segenap 'bawahan-Nya' sebab tugas yang diamanatkan, bukan sebab asal kejadian apalagi bahan penciptaan. Sekali lagi; sebab tugas yang diamanatkan. Mangkubumi. Wallahu a'lam.

Krapyak, 22 April, Earth Day 2016

No comments:

Powered by Blogger.