Sekolah Unggulan Preketek

06:56
Oleh: Zia Ul Haq

Barusan ada berita di televisi tentang seorang siswi SMP berprestasi yang bunuh diri sebab tak diterima masuk SMA favorit, setelah sebelumnya tertekan karena nilai akademiknya jeblok. Kemudian diikuti kabar bahwa Pak Menteri Muhajir hendak menghapus zonasi lembaga pendidikan, yakni zonasi sekolah favorit atau biasa. Semua itu mau dihapus dengan alasan merugikan siswa, wali siswa, dan negara. Sehingga anak-anak bisa belajar di sekolah (dasar-menengah) yang terdekat tempat tinggalnya. Tentu saja ini kabar yang sangat bagus.

Saya dulu belajar di sekolah yang dikenal favorit, sekitar 20 kilometer dari rumah. Ada rasa bangga saat nama saya bertengger mengeliminasi calon-calon siswa lain yang tak diterima. Ada rasa bangga tiap kali turun dari minibus di depan sekolah, dipandangi anak-anak sekolah lain.

Tiga tahun setelah lulus, saya mulai berkenalan dengan wacana pendidikan ala Ki Hajar, Freire, Illich, Alatas, maupun praktek belajar ala Pak Din dan Bu Wahya. Hal ini membuat saya menyadari bahwa zonasi semacam itu adalah hal yang buruk, entah bagi siswa, guru, maupun masyarakat. Saya pun tak habis pikir, apa yang ada di benak pengelola lembaga pendidikan atau pengambil kebijakan ketika membuat zonasi unggulan atau favorit semacam itu.

Wacana pendidikan macam apa yang beliau-beliau pelajari di fakultas pendidikan saat kuliah dahulu? Filsafat pendidikan mazhab siapa yang dijadikan acuan bagi kebijakan semacam itu? Apakah beliau-beliau tidak menyadari bahwa zonasi semacam itu diskriminatif, tidak realistis, dan tidak manusiawi?

Kalau bibit bawang atau wortel mungkin bisa kita kategorikan ada yang unggul, ada yang biasa. Tetapi manusia bukan bibit tanaman yang memang tujuannya untuk dipanen, dijual-beli, dikonsumsi. Bukan, manusia masuk sekolahan bukan untuk menjadi komoditas industri. Manusia masuk sekolahan untuk mempertegas kemanusiaannya, serta mengoptimalkan potensi akal-budinya.

Kalau tidak mau menerima zonasi favorit atau unggulan, lantas bagaimana lembaga pendidikan dasar yang bagus? Tentu saja para ahli dan praktisi pendidikan lebih pantas menjawabnya. Tetapi saya punya opini juga, sebatas untuk 'ancer-ancer' jika kelak saya hendak menyekolahkan anak.

Sependek wacana yang saya pahami, sekolah dasar-menengah yang bagus ialah yang proyek utamanya (1) menemani siswa agar tanggap terhadap problem nyata di sekitarnya, (2) bertanggung jawab terhadap target diri sendiri maupun amanah orang lain, (3) belajar dengan proses pembelajaran yang realistis dan manusiawi.

Terlalu abstrak? Memang. Konkret teknisnya ya silakan berkreasi sendiri. Tidak ada patokan teknis tunggal dalam kriteria bagus atau tidaknya lembaga pendidikan. Apalagi kalau sekedar mengacu pada lengkapnya fasilitas dan banyaknya tropi gapaian sekolah. Saya teringat kisah Bu Wahya ketika kami berkunjung ke sanggarnya di Jogja. Ada seorang ibu wali siswa yang curhat kepadanya. Ibu itu bercerita,

"Ada perubahan mencolok pada putra bungsu saya. Setelah setahun belajar di sanggar ini dia jadi begitu tanggap. Kalau ada air tumpah, dia segera respon cari lap, membersihkannya, lalu mencuci lap kemudian mengeringkannya. Tanpa saya suruh. Kalau ada sampah, dia langsung bertindak membuangnya di tong. Kalau saya kelihatan lelah, dia inisiatif memijat atau sekedar bertanya; mama mau minum? Dia juga tidak pernah lagi terlihat penat sepulangnya dari sekolah. Nampak begitu menikmati proses belajar di sanggar."

"Sedangkan si kakak yang belajar di sekolah favorit, masih sama seperti dulu. Dia baru mau gerak kalau sudah saya perintahkan. Belum lagi kalau pulang sekolah, dia terlihat penat dan capek. Saya tidak kecewa dengan prestasinya di sekolah, nilainya bagus-bagus. Tapi saya kuatir dengan sikapnya yang kurang tanggap terhadap masalah. Saya kemudian menyadari, ternyata selain keteladanan orang tua, lingkungan pendidikan juga sangat penting untuk membentuk kepribadian anak sebagai bekalnya berkehidupan," ujar ibu yang wanita karir itu.

_____
Tuwel, 31 Mei 2018
*Foto: dokumentasi ngobrol bersama Bu Wahya di Sanggar Anak Alam, Nitripayan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, 2015.

No comments:

Powered by Blogger.