Tirakat Kunjungan Guru

07:43
Oleh: Zia Ul Haq

Ada pengalaman menarik ketika kuliah kerja nyata di Madrasah Ibtidaiyah lima tahun lalu. Ada salah seorang guru yang punya prinsip unik. Ia tak begitu memperhatikan capaian siswa-siswi di sekolah berupa nilai mata pelajaran, kejuaraan lomba-lomba, atau prestasi-prrstasi kompetitif lainnya. Bukan berarti ia tidak mengapresiasi capaian-capaian itu, tentu ia tetap mengapresiasi dengan mengucapkan selamat, dukungan, senyuman, dan selazimnya. Tapi ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya dari diri siswa. Apa itu?


Ia lebih memperhatikan sisi kecakapan siswa terhadap tanggung jawab keseharian. Yakni tentang bagaimana sikap si anak terhadap tugas alamiahnya anggota rumah tangga, sebagai anak dari ibu dan bapaknya, sebagai kakak dari adiknya, sebagai rekan dari teman kampungnya, dan seterusnya. Ia beralasan bahwa hidup yang sesungguhnya bukanlah di gedung sekolah, melainkan di rumah. Siswa kelak akan kembali ke rumah, entah bersama orang tuanya atau kelak berumah tangga sendiri.

Tentu saja ia menyimpulkan pandangan semacam ini bukan tanpa dasar, falsafah tersebut ia sarikan dari pengalaman mendampingi anak selama puluhan tahun. Ia mengamati bahwa tak sedikit siswa yang dianggap ‘berprestasi’ ketika sekolah namun di kemudian hari kurang cakap dalam kehidupan, kemudian oleh rekan-rekan guru dianggap ‘biasa-biasa’ saja. lalu ada juga anak-anak yang saat sekolah dianggap ‘biasa’, tidak pernah menyabet juara apapun, namun ketika sudah dewasa bisa ‘berprestasi’, tentu dengan ukuran lazimnya orang yakni martabat finansial dan karir.

Nah, ia mengatakan ada hal yang aneh dalam pandangan semacam itu. Menurutnya hal paling utama yang mustinya dijadikan objek didik bagi anak-anak ketika belajar di sekolah adalah kecakapan terhadap tanggung jawab. Sampai di sini saya jadi teringat teori multi-kecerdasan anak ala Howard Gardner. Ia menyatakan ada delapan potensi kecerdasan anak yang musti dikembangkan dengan metode yang sesuai dengan jenis kecerdasan tersebut. Yakni kinestetik, linguistik, matematik, spasial, musikal, natural, interpersonal, dan intrapersonal.

Tapi masalahnya dalah banyak anak yang memiliki banyak kecenderungan kecerdasan, ya senang olahraga ya senang musik ya senang mengarang novel. Lalu saya bertanya-tanya, apa sebenarnya potensi paling utama anak yang musti dikembangkan sebagai bekal mereka dalam kehidupan riil?

Nampaknya guru MI ini sudah futuh, ia sudah menemukan jawabannya melalui pengalaman mengajar puluhan tahun, bukan dari riset teori. Yakni sikap amanat. Bukan berarti pencapaian akademik dan kejuaraan tidak penting, namun ia menekankan sesuatu yang akan menjadi karakter anak dan menjadi bekal mahal dalam kehidupan nyata. Maka sejak beberapa tahun lalu ia melakoni kegiatan yang dianggapnya ‘tirakat’ sebagai guru.

Untuk menilai sejauh mana keterlibatan para siswa di rumah dan lingkungan tinggal mereka, maka ia melakukan kunjungan ke rumah mukim si anak seminggu dua kali. Jadi tiap satu pekan ia mengunjungi rumah dua orang siswanya, Senin dan Kamis. Maka dalam satu semester (20-an pekan) ia bisa komplit mengunjungi rumah ke-40 siswa yang ia dampingi belajar di sekolah.

Dalam kunjungan itu, ia akan ngobrol santai dengan wali siswa tentang kegiatan sehari-hari si anak. Memang sekali-kali ia menanyakan tentang aktivitas belajar dan mengerjakan PR, tapi sebenarnya bukan itu fokusnya. Ia lebih tertarik dengan aktivitas si anak berupa membantu orang tuanya menyapu, menjemur pakaian, memberi makan ternak, mencuci peralatan makan, membereskan kasur, bahkan ada yang ikut menggembala bebek atau mencari rumput.

Inilah kegiatan yang dianggapnya sebagai hiburan sekaligus ‘tirakat’ untuk memperpanjang umur dan rejeki sebab diniati silaturrahim. Cerdas ya. Dari hasil survey selama satu semester ini, ia akan menggunakannya sebagai alat untuk meneropong siswanya, kemudian melakukan tindakan-tindakan pendidikan yang sesuai dengan kondisi kecakapan si anak dalam satu semester berikutnya. Sekali waktu ia pernah mengatakan, “Saya tidak begitu kuatir ketika anak jeblok nilai matematikanya, atau tidak juara dalam lomba-lomba. Tapi saya sangat kuatir kalau ternyata anak didik saya tidak amanah, tidak jujur, dan egois.”

Entah sampai kapan beliau akan melakoni tirakat yang tidak mudah itu. Namun upayanya itu memang salah satu perwujudan dari konsep ideal pendidikan. Bahwa proses belajar siswa tidak terbatas di gedung sekolah, tetapi juga melibatkan keterlibatannya di rumah dan masyarakat. Bahwa tugas pendidikan bukan melulu pekerjaan guru di sekolah, tapi yang utama adalah tanggung jawab orang tua, sehingga komunikasi antara guru dan orang tua haruslah intensif.

Dalam konsep pendidikan Islam integratif pun demikian. Ajaran Islam yang disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan bahwa semua aspek kehidupan merupakan sarana pengabdian kepada Tuhan. Bahwa tugas rumah tangga sehari-hari dalam rangka membantu orang tua, upaya menjaga kesehatan berupa olahraga dan pola makan serasi, hingga berlatih suatu keterampilan untuk memulai usaha dan kerja, semua itu merupakan proses pendidikan Islam. Tidak sekedar mendengarkan ceramah keagamaan, memaknai kitab, atau setoran hapalan doa dan ayat-ayat Quran.

Maka jangan heran bila di lingkungan pesantren ada konsep ‘khidmah’, yang berarti ‘pelayanan’. Yakni ketika aktivitas utama santri adalah melayani segala kebutuhan rumah tangga kiainya. Santri semacam ini disebut ‘khadim’, kalau jamak disebut ‘khuddam’, terjemah kasarnya ‘pelayan’. Biasanya, santri khadim semacam ini punya martabat yang istimewa di mata para santri lain. Jadi, meskipun kastanya ‘rendah’, ia justru dianggap ‘tinggi’ dan membuat iri para santri lainnya. Meskipun tidak begitu berprestasi atau alim dalam pelajaran-pelajaran.

Lalu apakah santri lain yang tidak menjadi khuddam kemudian tidak bisa berkhidmah? Tentu bisa. Mereka memiliki cara berkhidmah lain yang memang tidak seberat para khuddam. Cuci piring komplek, mengepel kamar, menyapu halaman pondok, atau contoh yang paling ikonik adalah kegiatan Roan Pembangunan. Yakni ketika pesantren sedang punya hajat membangun gedung, maka para santri tanpa diminta akan terjun ke lapangan untuk ikut mengecor, menata bata, mengangkut pasir, dan seterusnya. Semua itu dilakukan dengan sukarela atas nama khidmah.

Mentalitas khidmah semacam ini kemudian terbawa ketika mereka sudah terjun di tengah masyarakat. Entah dalam lingkup rumah tangga, ataupun dalam lingkup tanggung jawab pengayoman umat. Jika ketika mondok dahulu mereka berkhidmah untuk pesantren dan kiainya, maka ketika dia sudah berkiprah ia pun niatkan untuk berkhidmah bagi kemanusiaan. Maka jangan heran bila honor guru madrasah diniyah hanya tiga puluh lima ribu namun mereka tetap bahagia.

Satu-satunya perwujudan konsep khidmah di dunia persekolahan modern adalah ketika kuliah kerja nyata kampus. Di situlah momen ketika mahasiswa belajar melayani almamater sekaligus masyarakat dalam tempo dan cakupan tertentu. Itupun kalau para mahasiswa menyadarinya. Selain itu, konsep ‘khidmah’ ini sulit kita temukan dalam lingkungan persekolahan modern.

Ketiadaan konsep ‘khidmah’ di sekolah ini bukan berarti siswa tidak bisa berkhidmah. Sebab masih ada lingkungan pendidikan selain sekolah dimana siswa bisa berlatih berkhidmah, yakni rumah dan lingkungan. Tentu dalam taraf khidmah yang disesuaikan dengan jenjang usia dan kemampuan siswa. Agaknya guru MI di awal artikel ini intensif membangun komunikasi dengan para wali siswa untuk memastikan proses khidmah itu berlangsung dengan baik.

Zaman makin berkembang. Kemajuan teknologi memungkinkan setiap guru untuk bisa berkomunikasi secara lebih intensif dengan wali siswa. Misalnya melalui aplikasi obrolan WhatsApp, seorang guru bisa berdiskusi dalam grup WA bersama para wali siswa tentang proses belajar anak. Bahkan guru bisa mengawasi curahan-curahan hati para siswa (dan para walinya juga) melalui media sosial. Tapi jujur, saya penasaran, apakah para guru sudah memanfaatkan fasilitas grup WA untuk memantau pendidikan anak bersama wali siswa, ataukah justru ikut-ikutan berbagi hoax dan geger genjik politik?

~
Kalibening, 2 Mei 2018. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

No comments:

Powered by Blogger.